Tel: (021) 75791355 Email: sekr-ptseik@bppt.go.id

Analisis Kromatografi Gas

Kromatografi Gas

Oleh Atti Sholihah, S.Si

 

A.     Kromatografi Gas

Kromatografi gas (KG) merupakan metode pemisahan suatu campuran menjadi komponen-komponen berdasarkan interaksi fasa gerak dan fasa diam. Fase gerak berupa gas yang stabil sedangkan fase diam bisa zat padat atau zat cair. Cuplikan yang dapat dipisahkan dengan metode ini harus mudah menguap. Cuplikan dalam bentuk uap dibawa oleh aliran gas ke dalam kolom pemisah, hasil pemisahan dapat dianalisis dari kromatogram.Bagan alir dan komponen utama kromatografi gas dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Komponen utama kromatografi gas (Mulyana, 2018)

Injektor

Gambar 2. Sistem kerja injektor pada kromatografi gas (Mulyana, 2018)

Pada injektor terjadi penguapan awal sampel.

Terdapat beberapa jenis injektor kromatografi gas diantaranya.

a.      Wide Bore Injector (WBI), seluruh komponen sampel yang diinjeksikan masuk ke dalam kolom

b.      Split Injector, digunakan untuk sampel yang memiliki konsentrasi tinggi. Volume sampel yang masuk hanya yang dibutuhkan saja sedangkan sisanya dibuang.

c.       Splitless Injector, digunakan untuk sampel yang berkonsentrasi rendah.

d.      On Coloumn Injector (OCI), digunakan untuk sampel yang mudah terdekomposisi oleh pemanasan.

e.      Program Temperature Vaporizing Injector (PTV), digunakan untuk sampel yang memiliki variasi titik didih

Kolom

Gambar 3. Jenis kolom kromatografi gas (Mulyana, 2018)

Terdapat beberapa faktor untuk memilih kolom kromatografi gas yang sesuai, diantaranya :

a.      Fasa diam, bersifat polar, semi polar, atau non polar

b.      Ketebalan film, secara langsung mempengaruhi retensi, resolusi, suhu elusi untuk tiap komponen sampel

c.      Diameter internal

d.      Panjang kolom, semakin panjang kolom akan meningkatkan resolusi tapi juga akan meningkatkan biaya dan waktu analisis

 

Detektor

Terdapat beberapa macam detektor untuk kromatografi gas, diantaranya:

  1. Flame Ionization Detector (FID), mendeteksi hampir semua komponen organik
  2. Flame Photometric Detector (FPD), mendeteksi komponen yang mengandung phosfor dan sulfur
  3. Flame Thermionic Detector (FTD), mendeteksi komponen organik yang mengandung phosfor atau nitrogen
  4. Thermal Conductivity Detector (TCD), mendeteksi hampir seluruh komponen kecuali gas pembawa
  5. Electron Capture Detector (ECD), mendeteksi komponen elektrofilik
  6. Mass Spectrometer (MS),

 

B.      Kromatografi Gas di Laboratorium PTSEIK

            Kromatografi gas merupakan salah satu alat instrumen yang sering digunakan untuk kegiatan analisis hasil penelitian di laboratorium PTSEIK. Oleh karena itu, untuk menunjang kebutuhan analisis terdapat beberapa jenis Kromatografi Gas, diantaranya :

1.      Kromatografi Gas Shimadzu 2014

Gambar 4. Alat Kromatografi Gas Shimadzu 2014. Dokumen pribadi

 

Spesifikasi

Injektor            : Loop dan Syringe

Kolom              : Porapak Q (FID) dan Shincarbon ST (TCD)

Detektor          : TCD dan FID

2.      Kromatografi Gas Shimadzu 8A FID

Gambar 5. Alat Kromatografi Gas Shimadzu 8A FID (Vantyca, 2017)

Spesifikasi

Injektor            : Loop dan Syringe

Kolom              : Porapak Q

Detektor          : FID

3.      Kromatografi Gas Shimadzu 8A TCD

Gambar 6. Alat Kromatografi Gas Shimadzu 8A TCD (Vantyca, 2017)

 

Spesifikasi     

Injektor            : Loop dan Syringe

Kolom              : Shincarbon ST

Detektor          : TCD

4.      Kromatografi Gas Bruker Schion-456

Gambar 7. Alat Kromatografi Gas Bruker Schion-456. Dokumen pribadi

Spesifikasi

Injektor            : Syringe dengan autosampler

Kolom              : Br-1 100% dimethylpolisiloxane (FID)

Detektor          : TCD

 

C.      Kegiatan Penelitian di laboratorium PTSEIK yang memanfaatkan Kromatografi Gas

 

1.      Sintesis Metanol

Merupakan kegiatan penelitian untuk mencari katalis yang selektif dan low cost dalam mensintetis metanol. Kandungan metanol pada produk dapat dideteksi dengan menggunakan kromatografi gas.

2.      Produksi Biogas

Kegiatan pemanfaatan limbah cari kelapa sawit (POME) untuk menghasilkan biogas. Biogas ini bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi besar untuk pembangkit tenaga listrik. Biogas terbentuk secara alami ketika limbah cair kelapa sawit teruraikan pada kondisi anaerob. Biogas biasanya terdiri dari 50-75% metana (CH4), 25-45% karbon diokasida (CO2), dan sejumlah kecil gas-gas lainnya. Analisis gas-gas tersebut bisa menggunakan alat Gas Analyzer dan juga Kromatografi Gas.

3.      Gasifikasi dan Pirolisa

Gasifikasi merupakan salah satu metode yang  mengonversi bahan bakar padat menjadi gas dengan maksimal. Produk hasil gasifikasi gas sering disebut dengan syngas kaya akan CH4, CO, dan H2. Produk syngas dapat diarahkan secara proses agar menghasilkan gas yang kaya akan gas hidrogen (H2) yang setara dengan gas alam.

Pirolisis adalah proses dekomposisi termokimia darimaterial organik, yang berlangsung tanpa udara atau oksigen. Secara umum produk pirolisa dapat diklasifikasikan menjadi tiga jenis, yaitu : padatan, cair, dan gas. Produk gas yang dihasilkan meliputi CO, H2O, CO2, C2H2, C2H4, C2H6, C6H6, dll.

Produk gas yang terbentuk dari kedua metode tersebut bisa dianalisis menggunakan kromatografi gas.

4.      Dan lain-lain

Sampel selain hasil dari penelitian lain. Laboratorium PTSEIK juga menerima jasa analisis sampel dari luar.

 

Sumber referensi :

Mulyana. 2018. Basic Fundamental of GC. Application & Marketing Support. PT. Ditek Jaya

Rahayu, dkk. 2015. Buku Panduan Konversi POME menjadi Biogas. Winrock International

Vantyca, Desta. 2017. Pemanfaatan Cangkang Kelapa Sawit sebagai Penyangga pada Katalis Cu/Zn/Karbon Aktif untuk Konversi Syngas(H2/CO)menjadi Metanol. Skripsi. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah

 

Statistik Pengunjung

4.png4.png9.png7.png8.png
Today75
Yesterday101
This week75
This month1148
2
Online

Hubungi Kami

Gedung Energi 625 Klaster V
Kawasan PUSPIPTEK Serpong, Tangerang Selatan 15314

Tel: (021) 75791355

Fax: (021) 75791355

Web: ptseik.bppt.go.id