Tel: (021) 75791355 Email: sekr-ptseik@bppt.go.id

Rapat Koordinasi Monitoring Progress Ekstensifikasi Lahan Garam Untuk Rencana Pembangunan Pilot Project Garam Industri di Kabupaten Kupang

Pada hari Rabu, 20 Februari 2019, telah diadakan Rapat Koordinasi Garam di Aula Fernandez Kantor Gubernur NTT. Rapat ini diadakan untuk monitoring perkembangan ekstensifikasi lahan garam di NTT serta membahas rencana pembangunan Pilot Project Garam Industri di Kabupaten Kupang yang merupakan salah satu program kerja di PTSEIK BPPT bekerjasama dengan PT. Garam. Dalam acara ini, pihak BPPT diwakilkan oleh Deputi Bidang Teknologi, Industri, Energi, dan Material BPPT, Eniya Listiyani Dewi; Direktur PTSEIK BPPT, Hens Saputra; dan Kepala Program Pilot Project Garam Industri, Hari Yurismono.

Foto bersama Direktur PTSEIK dengan Dirjen ATR, Bupati Kupang, Deputi TIEM, Perwakilan PT. Garam, dan Staf Ahli Gubernur NTT

Acara rapat koordinasi ini dibuka oleh Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat. Gubernur mengharapkan rapat koordinasi tentang lahan garam di Kabupaten Kupang ini harus diselesaikan sebagai rapat terakhir dan selanjutnya harus meningkat ke tahap implementasi dan pelelangan. Gubernur bercerita bahwa sejak tamat SMA sudah ikut melaksanakan pengukuran lahan HGU yang diberikan kepada PT. Panggung Guna Gana Semesta, tetapi hingga saat ini tidak ada garam yang dihasilkan dari lahan tersebut. Terkait pelelangan, perusahaan yang berminat harus melakukan deposit dana di Bank NTT sebagai jaminan keseriusannya.

Gubernur diberikan hak untuk mengeluarkan HPL (Hak Pengelolaan) sebagai ganti HGU dan melakukan pelelangan dengan cara beauty contest khusus untuk perusahaan yang serius melakukan investasi. Gubernur berharap pembangunan industri garam dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat, meningkatkan pendapatan asli daerah, serta mengurangi impor sekaligus meningkatkan devisa dengan memanfaatkan teknologi dalam negeri.

Acara dilanjutkan dengan paparan dari Deputi Sumber Daya Alam, Kementerian Koordinator Kemaritiman, Agung Kuswandono mengenai potensi besar NTT untuk pengembangan produksi garam nasional. Tahun 2017 kebutuhan garam nasional sekitar 3,7 juta ton dan meningkat menjadi 4,4 juta ton pada tahun 2018 dengan perincian garam konsumsi 700 ribu ton dan garam industri sekitar 3,7 juta ton. Adapun kemampuan produksi nasional hanya 2,2 juta ton. Kemenko Kemaritiman juga menyatakan siap untuk melakukan pengawalan sampai pada tahap pemasaran garam. Sudah saatnya masyarakat NTT menikmati kekayaan alam yang tidak terkelola selama ini.

Deputi Bidang Teknologi Informasi, Energi, dan Material, Eniya Listiani Dewi dalam kesempatan ini memaparkan teknologi garam industri terintegrasi yang telah selesai didesain oleh BPPT. Teknologi ini dapat menghasilkan produk garam dengan kualitas garam industri secara kontinyu, sekaligus menghasilkan berbagai produk samping yang bernilai tinggi. Di sisi lain, pemanfaatan lahan evaporasi dapat dimanfaatkan untuk perikanan, udang, dan artemia serta pengembangan micro/macro algae. Pengolahan bittern atau air tua sisa pengolahan garam yang kaya mineral dapat menghasilkan bahan baku obat, minuman isotonik, pupuk, dan bahan bernilai tinggi lainnya.

Wilayah NTT sebenarnya sangat menguntungkan untuk ekstensifikasi lahan pegaraman karena curah hujan yang lebih singkat dibandingkan daerah lainnya. Namun demikian, pada saat ini hambatan utama pendirian pabrik garam di Kupang adalah lahan. Walaupun rapat sudah dilakukan koordinasi berkali-kali dengan pemerintah kabupaten Kupang pada tahun 2018, ijin lahan yang dibutuhkan tidak kunjung didapatkan sehingga dana 45 milyar rupiah yang sudah dianggarkan untuk pendirian pabrik garam di Kabupaten Kupang akhirnya dikembalikan ke kas negara.  Tahun 2019 pembangunan pilot project garam industri ini akan dilaksanakan di Gresik, Jawa Timur. Selanjutnya bila NTT dapat menyiapkan lahan yang jelas perijinannya maka Kupang dapat menjadi tempat pertama diadakannya pengolahan dengan sistem intiplasma garam di Indonesia.

Menanggapi permasalahan mengenai lahan tersebut, Direktur Jenderal Pengendalian Penguasaan Tanah dan Pemanfaatan Tata Ruang, Kementerian Agraria dan Tata Ruang Badan Pertanahan Nasional, Budi Situmorang menjelaskan bahwa masalah lahan garam di Kabupaten Kupang terjadi akibat tidak adanya aktivitas produksi garam. Terkait tanah terlantar ini telah ditegaskan dalam surat Dirjen Pengendalian Pemanfaatan Ruang dan Penguasaan Tanah atas nama Menteri Agraria dan Tata Ruang Nomor 3454/35-2-700/IX/2017 Tanggal 20 September 2017 bahwa apabila dalam jangka waktu setahun tidak ada upaya pemanfaatan, maka akan diambil kembali oleh negara tanpa syarat. Oleh karena itu, kedepannya akan dilakukan koordinasi lebih lanjut dengan pemerintah daerah untuk mempersiapkan kembali lahan yang dapat digunakan untuk pembangunan pabrik garam di NTT.

Dengan kehadiran dari berbagai pihak dalam acara rapat koordinasi ini diharapkan permasalahan mengenai lahan ini segera dapat terselesaikan sehingga proses pembangunan pilot project garam industri di Kabupaten Kupang dapat segera terlaksana dengan baik dan teknologi yang didesain oleh BPPT mampu membawa dampak positif bagi kesejahteraan rakyat, khususnya masyarakat NTT.

Penulis: HS

Editor: HNA

Sambut generasi baru, PTSEIK hadiri serah terima CPNS Tahun Anggaran 2018

PTSEIK-BPPT mengikuti acara serah terima dan penyambutan Calon Pegawai Negeri Sipil Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Tahun Anggaran 2018 (CPNS BPPT TA 2018) yang bertempat di Hotel Grand Mulia, Sentul Kab. Bogor. Acara dibuka dengan pembacaan berita acara serah terima yang dilakukan oleh Dr. Dra. Suratna, M. Psi. selaku Kepala Biro SDM dan Organisasi. Beliau menjelaskan bahwa acara orientasi CPNS BPPT TA 2018, yang berjumlah 233 orang telah dimulai pada tanggal 1 Februari 2019 kemarin, yang diadakan selama 5 hari mulai dari tanggal 1 Februari 2019 hingga tanggal 7 Februari 2019. Sembari menyerahkan CPNS ke unit kerja masing-masing, Ibu Suratna berpesan bahwa unit kerja harus menjaga CPNS masing-masing dengan baik agar potensi mereka dapat dikembangkan dengan optimal.

Penyambutan CPNS Kedeputian Teknologi Informasi, Energi dan Material

 

Kemudian, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Kepala BPPT yang baru dilantik, yaitu Dr. Ir. Hammam Riza M.Sc. Pak Hammam mengenalkan motto terbaru dari BPPT, yaitu solid, smart dan speed. Pak Hammam menyambut dengan hangat keluarga baru CPNS BPPT dengan mengajak untuk terus berkerja untuk inovasi teknologi dalam negeri agar Indonesia semakin berjaya. Pak Hammam turut mengajak CPNS BPPT dalam sebuah seruan yaitu “Let’s make BPPT great again”.

Acara dilanjutkan dengan persembahan penampilan kesenian (art performance) dari CPNS BPPT TA 2018. Rekan-rekan CPNS BPPT menampilkan kesenian lenong. Selain dari itu, ada penampilan tari tradisional, dan penampilan angklung massal dari CPNS BPPT. Semua hadirin turut bersuka cita dan larut dalam suasana keakraban yang baru saja terjalin tersebut. Acara kemudian dilanjutkan dengan foto bersama hadirin dengan CPNS BPPT yang baru selesai tampil.

 

 

Art Performance CPNS BPPT TA 2018

Kemudian, masing-masing CPNS diserahkan ke unit kerja. PTSEIK-BPPT menerima 6 (enam) orang CPNS. Mereka adalah Sekar Kumala Desi (Jurusan S-1 Teknik Kimia), Herson Bangun (S-1 Teknik Industri), Ikhwanul Ihsan (S-1 Teknik Sipil), Muhammad Rodhi Supriyadi (S-1 Teknik Informatika), Bagus Alif Firmandoko (S-1 Teknik Mesin), dan Susi Melyati (D-III Akuntansi). Keenam CPNS tersebut disambut dengan baik oleh Bpk. Hens dan Bpk. Sumbogo. Pak Hens, kemudian mempersilahkan CPNS untuk memperkenalkan diri masing-masing dan kemudian menjelaskan aturan-aturan kantor yang berlaku di BPPT, mulai dari jam masuk, absen, kedisiplinan hingga aturan berpakaian (dresscode). Acara tersebut dilanjutkan dengan obrolan santai, dan diakhiri dengan foto bersama.

Foto Bersama CPNS PTSEIK-BPPT 2018 dengan Direktur PTSEIK dan Dr. S.D. Sumbogo Murti B.Eng, M.Eng.

Penulis : ABA

Tingkatkan kerjasama, PTSEIK menerima kunjungan Fakultas Teknologi Industri UPN Veteran Yogyakarta

Pada tanggal 31 Januari 2019, Pusat Teknologi Sumberdaya Energi dan Industri Kimia (PTSEIK) kedatangan rombongan tamu dari Fakultas Teknologi Industri Universitas Pembangunan Nasional (FTI-UPN) Veteran, Yogyakarta. Kunjungan ini dimaksudkan sebagai kunjungan balasan dari tim PTSEIK tempo Desember 2018 lalu, sekaligus menjajaki kesempatan untuk kerjasama dengan BPPT dalam bidang riset dan penelitian. Acara dibuka oleh Direktur PTSEIK, Dr. Ir. Hens Saputra M.Eng. dan dilanjutkan dengan perkenalan antara kedua belah pihak. Pak Hens kemudian turut menjelaskan paparan sekilas mengenai BPPT, PTSEIK, dan juga peran dan fungsi PTSEIK di BPPT.

Dalam sambutannya, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama Fakultas Teknik Industri (FTI) UPN Veteran Yogyakarta, Ibu Mahreni berharap bahwa mahasiswanya dapat melakukan kerja praktek di PTSEIK, sekaligus melakukan kolaborasi penelitian dengan peneliti maupun perekayasa di PTSEIK yang telah menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat dalam bidang keahliannya masing – masing. Selama ini, tutur Ibu Mahreni, mahasiswa kesulitan mencari tempat kerja praktek dan penelitian yang sesuai dengan jadwal akademik mereka. Selain daripada itu, penggunaan alat di laboratorium PTSEIK dapat menambah kompetensi mahasiswanya dalam bidang keilmuan masing – masing. FTI UPN Veteran Yogyakarta, yang baru menjadi universitas negeri pada tahun 2014, membutuhkan partner untuk berkolaborasi menghasilkan penelitian yang bermanfaat bagi masyarakat luas, sehingga invensi tidak hanya berakhir sebagai sebuah kertas saja. Menurut Ibu Mahreni, riset dan inovasi yang ada didalam pemikiran beliau, seperti teknologi biogas, garam industri dapat ditemukan di PTSEIK-BPPT, sehingga menjadikan PTSEIK-BPPT sebagai mitra kerjasama yang tepat.

Acara kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah dan kunjungan ke laboratorium yang ada di PTSEIK. Selain diskusi, terdapat penjelasan singkat dari masing – masing kepala program mengenai program kerja yang telah maupun sedang dikerjakan, antara lain Inovasi Teknologi Bioenergi, Biogas dari Limbah POME, Batubara dan Petrokimia dan juga Garam Industri. Selain dari PTSEIK, juga terdapat paparan mengenai inovasi dan program kerja dari unit kerja lain, yaitu Pusat Teknologi Material (PTM).

Penulis : ABA

Kembangkan Mutu Laboratorium, PTSEIK Adakan Pelatihan ISO/IEC 17025:2017

Dalam rangka memberikan pembekalan serta pemahaman yang terpadu tentang sistem manajemen mutu pada laboratorium, PTSEIK mengadakan Pelatihan ISO/IEC 17025:2017 pada Senin, 4 Februari 2019 bertempat di Ruang Rapat lantai 2 Gedung 625, Puspiptek, Serpong. Pelatihan ini diikuti oleh seluruh staf PTSEIK-BPPT. Materi pelatihan disampaikan oleh Ibu Ir. Siti Rohmah M.M.

Pelatihan ISO/IEC 17025 : 2017

Pelatihan ini membahas standar ISO/IEC 17025:2017, yang merupakan acuan utama laboratorium pengujian dan kalibrasi. Laboratorium dapat menerapkan sistem kualitas, menunjukan kompetensi, serta mampu menghasilkan data yang valid dan reliabel dengan akreditasi ISO/IEC 17025:2017. Dalam pelatihan ini dibahas pula mengenai persyaratan atau klausul dari ISO/IEC 17025:2017. Sebanyak 6 dari 8 klausul dibahas dalam pelatihan ini diantaranya lingkup (scope), referensi, istilah dan definisi, persyaratan umum, persyaratan struktural, dan persyaratan sumber daya. Sementara dua klausul lainnya akan dibahas dalam pelatihan lanjutan ISO/IEC 17025:2017 yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat.

Selain pembahasan mengenai ISO/IEC 17025:2017, dilakukan pula diskusi dengan staf PTSEIK. Diskusi yang dilakukan pada umumnya mengenai kondisi laboratorium saat ini serta persiapan apa saja yang perlu dilakukan oleh PTSEIK dalam rangka mendapatkan akreditasi ISO/IEC 17025:2017.

Pada akhir tahun 2019 ini, PTSEIK berencana untuk mengajukan permohonan akreditasi laboratorium. Ditargetkan, pada tahun 2020 laboratorium PTSEIK mampu mendapatkan akreditasi ISO/IEC 17025:2017. Dengan diadakannya pelatihan ISO/IEC 17025:2017 ini diharapkan seluruh staf PTSEIK BPPT dapat bekerja sama untuk mempersiapkan persyaratan yang dibutuhkan sekaligus melakukan perbaikan mutu secara berkelanjutan dalam rangka mendapatkan akreditasi ISO/IEC 17025:2017 untuk laboratorium di lingkungan PTSEIK. 

Penulis : HNA

Editor : ABA

Sharing Session: Inovasi dan Transfer Teknologi di Lembaga Riset dan Industri Kimia di Jerman

Mengawali tahun 2019, PTSEIK mengadakan acara Sharing Session yang bertemakan “Inovasi dan Transfer Teknologi di Lembaga Riset dan Industri Kimia di Jerman” di Gedung 625 Klaster Energi Kawasan Puspiptek. Dalam sharing session kali ini, PTSEIK mengundang Dr.-Ing. Suhendra, tokoh Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasionan (I4) dan Diaspora di Jerman, untuk berbagi pengalaman dan wawasan selama studi S2-S3 dan bekerja di berbagai lembaga riset dan industri di Jerman.

Dalam paparannya, Dr.-Ing. Suhendra menceritakan proyek-proyek engineering yang pernah ditanganinya, a.l. Oil Refinery untuk Azarbaijan, Fine Chemical Plant di Jerman, Pabrik semikonduktor di Jerman, recycling senyawa phosphor dari lumpur aktif di instalasi pengolahan air limbah, pengembangan reaktor hidrogenasi, produksi sel surya, instalasi produksi farmasi beserta contoh pengembangan riset sampai komersialisasi, pengembangan produk dari ganggang laut (marine algae).

Dr.-Ing. Suhendra mencontohkan Joyn Bio yang merupakan gabungan Bayer dan Ginkgo, bertujuan melakukan melakukan komersialisasi teknologi yang memanfaatkan bakteri pengikat nitrogen dari udara bebas untuk pembuatan pupuk sebagai aplikasi pertanian secara berkelanjutan. Riset ini dilatarbelakangi oleh permintaan pupuk di seluruh dunia dan senyawa nitrogen yang reaktif di atmosfir meningkat. Proses konvensional yang ada saat ini memiliki kendala biaya yang mahal, emisi senyawa NOx dan berpotensi mencemari lingkungan.

Dr.-Ing. Suhendra juga membagikan pengalaman dan wawasan non teknis seperti berbagai macam bentuk transfer teknologi dan lanskap dunia riset di Jerman. Salah satu bentuk transfer teknologi yang cukup agresif adalah pembelian perusahaan untuk percepatan penguasaan teknologi. Pada tahun 2016 dalam seminggu rata-rata ada satu perusahaan Jerman yang dibeli oleh pihak China. Dr.-Ing. Suhendra menyaksikan sendiri ketika fasilitas produksi solar sel di perusahaan tempat dia bekerja dibeli dan diangkut ke China.

Dua hal menarik dari lanskap dunia riset di Jerman yang diceritakan Dr.-Ing. Suhendraadalah terkait sumber pendanaan dan lembaga-lembaga riset. Kalau di Indonesia 80% dana riset dari pemerintah, maka di Jerman 80% dana riset dari industri dan sisanya dari pemerintah pusat, pemerintah negara-negara bagian, dan dari berbagai foundations.

Riset di Jerman dilakukan oleh berbagai lembaga riset, mulai dari riset ilmu dasar sampai yang berorientasi industri. Riset ilmu dasar, selain di perguruan tinggi, juga terwakili oleh berbagai pusat penelitian atau institut yang tergabung di dalam Max Planck Society, sedangkan untuk yang berorientasi terapan atau industri terwakili oleh Fraunhofer Society. Selain itu, masih ada berbagai institut yang tergabung pada Leibniz Society dan juga Helmholtz Association yang membawahi 18 pusat atau kawasan riset setara Puspiptek atau yang bersifat spesifik. Selain itu, di level negara bagian juga banyak institusi riset.

Penulis : ABA, MAK

Statistik Pengunjung

6.png0.png1.png1.png9.png
Today66
Yesterday179
This week1226
This month3952
1
Online

Hubungi Kami

Gedung Energi 625 Klaster V
Kawasan PUSPIPTEK Serpong, Tangerang Selatan 15314

Tel: (021) 75791355

Fax: (021) 75791355

Web: ptseik.bppt.go.id