Tel: (021) 75791355 Email: sekr-ptseik@bppt.go.id

Rencana Pengembangan Pilot Project Pabrik Garam berkapasitas 40000 ton/Tahun di Kupang-NTT

Garam merupakan salah satu komoditas yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat dalam berbagai sektor baik sektor rumah tangga maupun industri. Pada sektor rumah tangga, garam dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari, sedangkan sektor industri memanfaatkan garam sebagai bahan baku dalam pembuatan berbagai produk industri, antara lain produksi pipa PVC, sabun, kosmetik, tekstil manufaktur dan hasil industri lainnya. Hingga saat ini Indonesia masih mengimpor garam sekitar 2 juta ton/tahun. Supply dan demand garam nasional dapat dilihat pada Gambar 1.

 

Gambar 1. Supply-demand garam nasional

Menyadari akan pentingnya komoditas garam, maka pemerintah memprioritaskan pada Rencana Induk Pengembangan Industri Nasional (RIPIN) 2015-2035. Dalam praktiknya, sektor industri membutuhkan garam dengan kualitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan kualitas garam untuk konsumsi rumah tangga. Garam dengan kualitas yang tinggi inilah yang harus dipenuhi oleh produsen garam dalam negeri, meskipun sebenarnya pemenuhan garam untuk kebutuhan rumah tangga sudah dapat dipenuhi. Permintaan garam dari sektor industri sendiri berkontribusi 40% dari total permintaan garam nasional, sehingga diperlukan terobosan dari Pemerintah serta produsen garam untuk memenuhi kebutuhan garam berkualitas tersebut. Pemenuhan kebutuhan garam nasional memang sudah seharusnya mendapatkan perhatian khusus dari Pemerintah karena sampai dengan hari ini, pemenuhan kebutuhan garam nasional belum dapat dilakukan secara swasembada. Layaknya sebuah negara berkembang, penurunan impor dan peningkatan ekspor suatu komoditas sangat diharapkan. Sumber daya yang dimiliki oleh Indonesia sebenarnya sudah memadai untuk melakukan swasembada garam. Dalam konteks pemenuhan kebutuhan garam nasional, Indonesia. merupakan negara yang memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia sehingga dimungkinkan untuk mampu memenuhi kebutuhan garam nasionalnya dan bukan tidak mungkin akan menjadi salah satu negara eksportir garam terbesar di dunia. Permasalahan utama yang dihadapi produsen garam lokal saat ini adalah belum tersedianya refinery garam. Refinery garam digunakan oleh produsen garam untuk melakukan proses pengkristalan dan pemurnian garam dengan memanfaatkan perkembangan teknologi, sehingga diharapkan dapat menghasilkan produksi garam yang lebih besar dalam waktu yang singkat. Sejauh ini, pengolahan garam masih dilakukan dengan cara konvensional, sehingga membutuhkan waktu dan proses yang cukup panjang untuk menghasilkan garam yang siap pakai. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Pemerintah telah berencana untuk membangun sebuah refinery garam di Nusa Tenggara Timur (NTT) guna meningkatkan produksi garam nasional yang lebih berkualitas dan dalam jumlah yang lebih besar.

Tahun 2018, PTSEIK diberikan amanah untuk pelaksanaan Kegiatan Pilot Project Pabrik Garam kapasitas 40.000 Ton/tahun terintegrasi di Kupang-NTT. Kegiatan ini terdiri dari 5 WBS dan didanai oleh DIPA BPPT sebesar 45,2 M. Progress kegiatan yang sedang berjalan dimulai dengan pengadaan tender peralatan pilot plant oleh Pengadaan Jasa Engineering, Procurement & Construction (EPC) di bantu oleh unit layanan pengadaan (ULP).

Gambar 2. Rapat Review DED Plant Pengolahan Garam

Kendala yang dihadapi kapasitas garam yang akan dibangun masih kecil sekitar 2% dari kebutuhan nasional, masa panen garam yang tidak berlangsung sepanjang tahun dikarenakan hambatan cuaca masih sulit diatasi sehingga masa efektif adalah sekitar 9 bulan.

Ditulis oleh: Fausiah (editor GWM)

Statistik Pengunjung

3.png8.png8.png5.png7.png
Today95
Yesterday91
This week186
This month1704
3
Online

Hubungi Kami

Gedung Energi 625 Klaster V
Kawasan PUSPIPTEK Serpong, Tangerang Selatan 15314

Tel: (021) 75791355

Fax: (021) 75791355

Web: ptseik.bppt.go.id