Tel: (021) 75791355 Email: sekr-ptseik@bppt.go.id

Tim PTSEIK Kunjungi Produsen Listrik Independen Bertenaga Biogas Pertama di Indonesia

Pada tanggal 28 - 30 Agustus 2018, tim dari PTSEIK berkesempatan untuk mengunjungi PT. AANE selaku produsen listrik independen pertama di Indonesia yang mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Biogas dan menjualnya ke PT. PLN secara komersial. Sejarah PT. AANE dimulai pada tahun Oktober 2008 dimana PT. AANE didirikan sebagai joint venture antara ANJ Agri dan perusahaan Jerman, Aufwind Schmack Asia Holding GmbH. PT. AANE bertugas untuk menjalankan bidang usaha biogas PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJ) melalui pembangkit listrik berkapasitas 1.2 MW di Desa Jangkang, Kabupaten Belitung Timur. Pembangkit listrik bertenaga biogas yang mulai beroperasi pada tahun 2012 ini bertujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dari perkebunan. Hal ini dilakukan dengan memanfaatkan gas metana yang dihasilkan dari proses pembusukan limbah cair pabrik kelapa sawit (POME, Palm Oil Mill Effluent) dan membakar gas metana tersebut untuk menghasilkan listrik.

Gambar 1. Tim PTSEIK dengan Manager External Plant dan Manager Biogas Power Plant PT. AANE sedang melakukan site visit

Pada tahun 2013, PT AANE mendapatkan izin usaha pembangkit listrik independen (IPP) dan memulai kegiatan operasinya pada 31 Desember 2013, bersamaan dengan ditanda tanganinya Perjanjian Pembelian Tenaga Listrik (Power Purchase Agreeement atau PPA) selama 15 tahun dengan PLN. Dengan adanya peningkatan kapasitas pembangkit listrik menjadi 1.8 MW pada 29 Januari 2016, PLTBg milik PT. AANE dapat menerangi 2.000 rumah tangga dengan kapasitas 900 VA dengan kapasitas pengolahan bahan baku (limbah pabrik kelapa sawit berupa POME) sebesar 60 ton/jam. 

 Gambar 2. Tim PTSEIK menyimak penjelasan dari Manager Biogas Power Plant PT. AANE

Bahan baku POME dari Pabrik Kelapa Sawit dialirkan menuju cooling pond (kolam pendingin), dengan temperatur rata-rata 60-70 derajat Celcius, derajat keasaman (pH) sebesar 4 dan kandungan COD (Chemical Oxygen Demand) sebesar 35.000 - 45.000 ppm. Tidak ada perlakuan khusus terhadap POME di tahapan ini, hingga selanjutnya POME dipompa menuju anaerobic digester berupa kolam 3 dan 4 secara paralel. Digester ini menggunakan teknologi covered lagoon dengan double membrane roof system, yang dirancang khusus untuk menampung produk biogas dan melindungi kolam dari pengaruh cuaca ekstrim diluar. Gas yang telah diproduksi dapat dimonitor pada level indicator filling gas. 

 

Gambar 3. Skema PLT Biogas PT. AANE

Biogas yang terbentuk dalam digester dengan kandungan gas metana sebesar 55-60%V dan kandungan H2S sebesar 1.200 - 1.500 ppm kemudian dimurnikan dengan menggunakan bioscrubber. Bioscrubber berfungsi untuk menurunkan kandungan H2S dengan menggunakan bakteri aerob yang disemprotkan bersama dengan air, berlawanan arah dengan datangnya biogas. Kemudian, biogas dikeringkan dengan menggunakan water chiller pada temperatur 7-12 derajat Celcius. Produksi biogas yang berlebih akan dibakar pada sistem suar (flare). Setelah biogas dikeringkan, maka dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan tenaga listrik dengan menggunakan gas engine sebagai penghasil tenaga listrik.

Penulis: Asmi Rima Juwita & Desy Septriana

Editor: ABA

Statistik Pengunjung

3.png8.png8.png5.png8.png
Today96
Yesterday91
This week187
This month1705
1
Online

Hubungi Kami

Gedung Energi 625 Klaster V
Kawasan PUSPIPTEK Serpong, Tangerang Selatan 15314

Tel: (021) 75791355

Fax: (021) 75791355

Web: ptseik.bppt.go.id