Tel: (021) 75791355 Email: sekr-ptseik@bppt.go.id

Dialog Nasional Biofuel: Implementasi Biofuel sebagai Solusi Penyediaan Bahan bakar di Indonesia

Pada 25 Agustus 2018 di Gedung II BPPT Lantai 3 , PTSEIK dan BTBRD Kedeputian TIEM BPPT mengadakan dialog nasional biofuel yang bertema "Implementasi Biofuel sebagai solusi penyediaan bahan bakar di Indonesia". Acara dialog nasional tersebut dihadiri oleh perwakilan beberapa stakeholder di bidang biofuel, antara lain Kementerian ESDM, Ikatan Ahli Bioenergi Indonesia (IKABI), Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), PT. Pertamina (Persero), Gabungan Industri Kendaraan Bermotor di Indonesia (Gaikindo), dan Himpunan Industri Alat Besar Indonesia (HINABI).

Acara dibuka dengan sambutan dari Kepala BPPT, Dr. Ir. Unggul Priyanto, M.Sc. Beliau menyampaikan bahwa teknologi biofuel ini diperlukan untuk meningkatkan daya saing dan pertumbuhan ekonomi nasional, serta untuk mensukseskan program Pemerintah. Selain itu, beliau menyoroti neraca perdagangan saat ini mengalami defisit anggaran, salah satu penyebabnya adalah impor bahan bakar minyak sebesar 1000 barrel/hari lebih. Dengan adanya implementasi penggunaan Biodiesel, memiliki keuntungan yaitu, meningkatkan penggunaan BBN dan mengurangi impor BBM dan meningkatkan nilai tambah kelapa sawit. Sehingga diharapkan dapat mengurangi defisit anggaran berjalan. Saat ini pemerintah memberhentikan sementara proyek PLN untuk membangun 35.000 MW, karena dirasa konten lokal yang sedikit sehingga masih impor dan semakin memberatkan pemerintah, contohnya mesin diesel impor dan turbin tidak ada supplier dari Indonesia. Dengan dikembanngkannya bio-kilang (via Hydrogenated Vegetable Oil) yang teratasi bukan hanya diesel tapi juga bensin dan avtur. Diperlukan pajak energi baru terbarukan dimulai dari yang kecil agar tidak berat untuk mengantisipasi naiknya harga CPO serta dapat mengatasi disparitas yang tinggi. Perlu dijaga kontinuitas pasokan energi bahan bakar terbarukan melalui kebijakan fiskal. Sudah pernah melakukan road test B30 dan E-30 dari Menado ke Jakarta oleh BPPT sekitar 10 tahun yang lalu.

 Gambar 1. Paparan dari Herutama Trikoranto, Ph.D. dari SVP Pertamina Research and Technology Center

Dialog dimulai dengan panduan dari Dr. Ir. Dadan Kusdiana, M.Sc., Staf Ahli Menteri ESDM, yang bertindak sebagai moderator. Pembicara pertama adalah Deputi Teknologi Informasi, Energi dan Material, Prof. Dr. Eniya L. Dewi, B.Eng, M.Eng. mengenai peluang biofuel untuk substitusi bahan bakar di berbagai sektor nasional. Implementasi BBN pada tahun 2025 diharapkan akan sebesar 23% yang mana tinggal 7 tahun lagi. Permasalahan kita saat ini yaitu impor yang semakin banyak, nilai tukar rupiah yang melemah, konsumsi BBM selalu meningkat. Syarat-syarat bio-fuel untuk menggantikan BBM yaitu, kualitas harus menyamai, harga kompetitif, dan kuantitas harus besar.

Pengujian yang pernah dilaksanakan oleh BPPT yaitu B30 pada otomotif (road test 2014), kajian penanganan dan penyimpanan B20 di PT KAI (2016-2017), rail test B20 (Feb-Agustus 2018), dan pengujian penggunaan PPO pada PLTG 1,2 MW dan 21 MW di PLTG Pauhlimo engine pembangkit listrik, kajian aplikasi B20 di sector pertambangan (2010, 2015, 2017). Isu baru teknologi KDV dari Jerman dengan umpan batubara dan biomass yang dapat mengkonversi secara langsung menjadi diesel, gasoline. Status saat ini, BPPT melakukan teknologi clearing house, PT. Bukit Asam berniat menggunakan teknologi ini diharapkan bisa menjadi solusi untuk biofuel dengan harga yang lebih murah. Untuk mengimbangkan perkembangan bahan bakar biodiesel, maka perlu pasokan metanol yang murah untuk produksi biodiesel. Kebutuhan methanol mencapai 979.270 ton/tahun.

Agus Saptono, S.E., M.M. mewakili Dirjen EBTKE Kementerian ESDM yang berbicara mengenai regulasi terkait penerapan bahan bakar nabati, seperti UU No. 30 Tahun 2007 tentang energi, PP No 79 Tahun 2014 mengenai kebijakan energi nasional, dan pemanfaatan bahan bakar nabati secara bertahap yang diatur dalam Permen ESDM No. 12 Tahun 2015. Beliau juga memaparkan ujicoba pemanfaatan B20 yang telah dilakukan, termasuk yang terbaru berupa rail test dan pengujian dengan kendaraan diesel. Mandatori biodiesel 2006 perluasan implementasi B20 diangggap sosialisasinya kurang gencar. Persiapan implementasi B30 saat ini sedang berjalan. Sedangkan perkembangan E20 belum ada yang jalan. Penerapan bioetanol E5 akan dilaksanakan pada 1 januari 2019, permasalahan etanol akan diangkat ke sidang kabinet. Kebijakan pemerintah saat ini, harus mengimplementasikan B20 karena neraca perdagangan, kebutuhan, dan penghematan devisa. Akan dikenakan sanksi sebesar Rp. 6000/liter kepada pemakai bahan bakar bila tidak menggunakan bahan bakar B20. Harga CPO ongkos angkut menjadi masalah. Pemberian relaksasi penggunaan HSD murni (B0) diberikan kepada Alutsista Indonesia. Selain itu, yang saat ini sedang diaudit yaitu PT. PLN (PLTGU dan MPP), dan PT.  Freeport di highland. Pada PT. Freeport yang di highland, terjadi permasalahan pada biodiesel terdapat endapan di dataran tinggi.

Dr. Tatang Hernas Soerawidjaja sebagai ketua IKABI (Ikatan Ahli Bioenergi) yang menyampaikan tentang Peran Strategis Bahan Bakar Nabati (BBN) Biohidrokarbon Bagi Masa Depan NKRI. Dalam paparannya, Dr. Tatang menyampaikan bahwa BBN yang diproduksi dari minyak nabati seperti sawit merupakan komoditas unggulan NKRI, yang dapat menjadi pengganti sepadan dari bahan bakar minyak bumi sehingga menekan ketergantungan terhadap impor minyak bumi/BBM. Besarnya impor BBM akan dialihkan menjadi impor minyak mentah sekitar 1,2 jt barrel/hari. Level minyak bumi diatas USD 65/barrel akan menimbulkan defisit pada neraca pembayaran negara. Tahun 2025,kapasitas total kilang 2 jt barrel/hari berdasarkan RDMP (Refinery, Development Master Plan). Asam palmitat yang banyak ditemukan pada minyak kelap sawit cocok dengan karakteristik bio-gasoline, sedangkan asam laurat dari minyak kelapa cocok untuk bioavtur.

Rekomendasi agar mampu memproduksi BBN yaitu penguatan dan perluasan basis pasokan minyak lemak dari pohon berkayu yang produktif untuk minyak lemak; mengembangkan perkebunan pohon-pohon bioenergi, sebagai negara tropis dan lautan maka cocok untuk mengembangkan mikroalga. Kesimpulan: BBN biohidrokarbon dapat mengurangi ketergantungan impor BBM. Oleh karena itu, perlu intensifikasi dan ekstensifikasi perkebunan berbasis minyak lemak seperti kelapa, pongan, nyamplung, dan mikroalga.

Duta Pusvita S.E  dari Aprobi (Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia) menjelaskan tentang kesiapan industri dalam suplai biofuel. Perkembangan di beberapa negara, GDP semakin besar maka konsumsi bahan bakarnya juga semakin besar. Bauran energi yang berubah signifikan dengan menurunnya permintaan batubara, tren EBT meningkat, minyak dan gas bumi tetap. Produksi minyak di Indonesia menurun. Keunggulan biodiesel yaitu ramah lingkungan (biodegradable, tidak beracun bebas sulfur, sumber bahan baku berkelanjutan, karbon netral), merupakan mendukung ketahanan energi (mengurangi ketergantungan impor), dan keekonomian (membuka lapangan pekerjaan, mengurangi defisit karena impor).

 Gambar 2. Antusiasme peserta Dialog Nasional Biofuel hingga tempat duduk peserta penuh

Budhi Martono dari HINABI (Himpunan Industri Alat Besar Indonesia) mempresentasikan kesiapan industri alat besar dalam implementasi biofuel. Penggunaan B20 merupakan tantangan di HINABI karena penggunaan B20 di Indonesia ini merupakan pioneer dari negara-negara lain. Tantangan implementasi biodiesel untuk industri alat berat di Indonesia adalah biodiesel dengan kandungan yang cukup tinggi daripada negara-negara lain. HINABI berharap perlu adanya insentif (kebijakan positif) bagi industri alat besar yang telah menerapkan teknologi yang ramah lingkungan. HINABI berharap adanya petunjuk teknis penanganan biodiesel untuk sektor lain guna menjamin kualitas bahan bakar, serta adanya paket kebijakan yang positif bagi industri alat berat yang telah menerapkan teknologi ramah lingkungan.

Herutama Trikoranto, Ph.D. dari Pertamina Research and Technology Center menyampaikan Roadmap Pertamina dalam Pengembangan Biofuel. Visi Pertamina berubah menjadi energy company bukan lagi oil company yang nantinya juga berbisnis renewable energy. Untuk mendukung B20 dalam mandatori Presiden pada tanggal 1 September 2018 ini telah dimulai pada tahun 2016. Namun, pasokan FAME tidak sampai ke Indonesia Timur dikarenakan transportasinya jauh sehingga produsen kesulitan menjangkau Pertamina. Disamping itu, kebutuhan bahan bakar di Indonesia Timur tidak begitu besar. Infrastruktur blending, menambah tangka penyimpanan FAME hingga saat ini sedang menyiapkan tangka tambahan sebanyak 122 terminal BBN. Blending solar hingga 20 tidak menjadi masalah, contohnya seperti road test dari Menado ke Jakarta. Dalam proses blending ini tidak ada masalah, namun Pertamina mendapat laporan dari otomotif bahwa untuk daerah dengan suhu rendah terjadi pengendapan (clogging). Untuk mempercepat biofuel implementasi B30, Pertamina membangun bio-refinery disejumlah tempat yang dekat dengan sumber bahan baku dari CPO, biomass, dan minyak nabati yang non-edible.

Oleh karena itu, untuk mengatasi kelemahan-kelemahan biodiesel FAME maka perlu mengembangkan BBN generasi 1,5 dengan bahan baku dari CPO. Teknologi BHD (Bio-hydrogenated Diesel) bahan bakar dapat digunakan dengan berapa pun campuran tidak menjadi kendala. Produktivitas CPO paling tinggi dibandingkan dengan minyak-minyak nabati yang lain. Ada sejumlah kendala dalam pemasaran minyak kelapa sawit karena dibanned. Selain itu juga, harga CPO yang tidak stabil menjadi kendala dalam pengembangan biofuel karenanya perlu ada regulasi untuk harga jaminan harga agar penyerapan CPO dapat dicapai.

Gambar 3. Penyerahan cinderamata kepada Pembicara Dialog Nasional Biofuel 2018

Gambar 4. Konferensi press dari beberapa media setelah acara selesai

Hasil dari Dialog Nasional Biofuel ini dirumuskan oleh tim perumus dari BPPT, terdapat 2 rekomendasi untuk mengatasi masalah tersebut dalam jangka pendek dan panjang sehingga diharapkan pemerintah dapat sepenuhnya siap dan mendukung implementasi biofuel di Indonesia.

 

Bahan Paparan dapat diunduh di sini.

 

Penulis: GWM dan Arya

Statistik Pengunjung

4.png4.png9.png7.png6.png
Today73
Yesterday101
This week73
This month1146
2
Online

Hubungi Kami

Gedung Energi 625 Klaster V
Kawasan PUSPIPTEK Serpong, Tangerang Selatan 15314

Tel: (021) 75791355

Fax: (021) 75791355

Web: ptseik.bppt.go.id