Tel: (021) 75791355 Email: sekr-ptseik@bppt.go.id

Sosialisasi Pembangunan Fasilitas Pemanfaatan Oli Bekas menjadi Bahan Bakar Alternatif di Kalimantan Selatan

Pada Tahun Anggaran 2019, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan c.q. Direktorat Penilaian Kinerja Pengelolaan Limbah B3 dan Limbah Non B3 membuat kegiatan proyek percontohan pembangunan fasilitas pemanfaatan oli bekas menjadi bahan bakar alternatif di TPA Banjar Bakula, Kota Banjar Baru, Provinsi Kalimantan Selatan yang bekerjasama dengan Pusat Teknologi Sumberdaya Energi dan Industri Kimia (PTSEIK) - BPPT. Dalam masa penyelesaian kerjasama KHLK mengadakan sosialisasi tentang Sosialisasi Pembangunan Fasilitas Pemanfaatan Oli Bekas menjadi Bahan Bakar Alternatif. PTSEIK turut serta hadir dalam sosialisasi tersebut untuk memberikan paparan terkait. Acara sosialisasi ini diselenggarakan telah diadakan 23 Agustus 2019 di Ruang Aula Lantai Dasar, Kantor Dinas Lingkungan Hidup, Jalan bangun Praja Kawasan Perkantoran Pemprov Kalsel Trikora, Banjar Baru, Provinsi Kalimantan Selatan.

Gambar 1. Suasana saat sosialisasi berlangsung

Kegiatan proyek percontohan ini merupakan program prioritas nasional subsektor kedaulatan energi. Pemilihan lokasi di Provinsi Kalimantan Selatan didasari oleh banyaknya Limbah B3 oli bekas dari industri pertambangan dan industri-industri lain, serta untuk mendekatkan pengolahan Limbah B3 oli bekas dengan lokasi Limbah B3 tersebut dihasilkan, atau yang lebih dikenal dengan Prinsip Proximity. Hal ini merupakan himbauan pemerintah dalam upaya menerapkan Sapta Cita kehadiran pemerintah dalam penyelesaian masalah pembangunan di lapangan.

 

Penulis : Ir. Ade Syafrinaldy, M.Sc.

Editor : GWM

 

FGD Kualitas Bahan Bakar Nabati

Pada 2 Oktober 2019, BPPT mengadakan Focus Group Discussion (FGD) mengenai "Kualitas Bahan Bakar Nabati" yang dipimpin oleh Ir. Arie Rahmadi, B.Eng., M.Eng.Sc (Ka. B2TBRD). Ada 2 (dua) paparan yang dipresentasikan, yaitu "Usulan Menjaga Kualitas" oleh Imam santoso dan Irsal (PT. Sucofindo (Persero)) dan "Standar Biodiesel" oleh Bina Restituta, S.T. (B2TBRD). FGD ini bertempat di Lantai 11 Ged. 2 BPPT Jl. MH. Thamrin No.8, Jakarta. Dr. Ir. Erlan Rosyadi, M.Eng. sebagai perwakilan PTSEIK untuk menghadiri acara tersebut.

Berbagai isu terkait kekurangan BBM fosil seperti penyebab efek gas rumah kaca, kelangkaan BBM dan harga BBM yang tidak menentu karena impor yang juga mempengaruhi transaksi neraca berjalan, hingga pengaruhnya terhadap perputaran roda ekonomi memicu penggunaan bahan bakar berbasis tumbuhan atau nabati. Selain itu juga, kebijakan mandatori pemerintah dalam penggunaan biodiesel B30 akan diterapkan pada awal tahun 2020 nanti. Oleh karena itu, BPPT membuat FGD dengan menghadirkan pembicara dari PT. Sucofindo dan B2TRBD-BPPT terkait kualitas bahan bakar hasil blending dari mulai produksi hingga distribusi sampai ke tangki penyimpanan sebelum didistribusikan ke pengguna.

 Gambar 1. Suasana FGD

 

Gambar 2. Blok diagram monitoring kualitas campuran B30

Diharapkan ke depannya, usulan pengaturan pemanfaatan bahan bakar minyak nabati tidak hanya sebatas pada pemanfaatan biodiesel (FAME), namun juga pada pemanfaatan Pure Plant Oil (PPO) maupun green diesel dan green gasoline. Sehingga pemanfaatan Pure Plant Oil (PPO) juga dapat dipakai untuk mengatasi permasalahan pemakaian biodiesel di mesin diesel putaran menengah ke bawah (<750 rpm) seperti milik user PT. Pelni. Hal ini disebabkan karena bahan bakar PPO memiliki sifat terdegradasi lebih baik daripada biodiesel dan sifat melarutkan material logam yang kurang daripada biodiesel. Namun, hal yang perlu dipikirkan terkait penggunaan bahan bakar PPO adalah perlunya pretreatment pemanasan sebelum masuk ke engine agar diperoleh proses atomisasi yang sempurna dan suplai chain PPO hingga dari pemasok ke user.

Gambar 3. Peserta FGD yang hadir dari beberapa instansi terkait

Adapun terkait program sertifikasi biodiesel, ada beberapa acuan yang perlu dipelajari dari beberapa negara lain sebelum dilakukan sertifikasi campuran biodiesel, diantaranya adalah:

  • AGQM (Arbeits Gemeinschift Qualitats Management)
  • ISCC EU Certification
  • BQ-9000
  • RFS2 (Renewable Fuel Standard)

Gambar 4. Antusiasme peserta FGD

Penulis: Dr. Ir. Erlan Rosyadi, M.Eng.

Editor: GWM

 

PTSEIK Mendukung Keterbukaan Informasi Publik di Lingkungan BPPT

Jakarta, 25 Juli 2019, PPID BPPT Pusat (Biro HKH) menyelenggarakan Annual Meeting dengan tema “Optimalisasi Keterbukaan Informasi Publik di Lingkungan BPPT”. Acara tersebut dihadiri oleh Ka. BPPT, Komisioner Komisi Informasi Pusat (KIP), dan perwakilan PPID dari masing-masing unit di BPPT (44 unit kerja). Acara tersebut dibuka dengan laporan awal dari Ka. Biro HKH, Ir. Ardi Matutu,. Menurut beliau seluruh kegiatan yang ada di BPPT wajib untuk dipublikasikan oleh lembaga publik kepada masyarakat.

Sambutan dan Pembukaan dilaksanakan oleh Plt. Sestama, Dr. Ir. Gatot Dwianto, M.Eng. Dalam sambutannya, untuk mendukung revolusi industri 4.0 harus terlaksana keterbukaan informasi yang diamanatkan dalam UU no. 14 tahun 2008, khususnya informasi yang bersifat publik. 3 (tiga) poin penting kewajiban badan publik yaitu; 1. wajib memberikan informasi publik, selain yang dikecualikan sesuai dengan ketentuan yang berlaku; 2. wajib menyediakan informasi public yang akurat, benar, dan tidak menyesatkan, dan 3. harus membangun dan mengembangkan sistem informasi dan dokumentasi untuk mengelola informasi secara baik dan efisien sehingga dapat diakses dengan mudah. Pada tahun 2016 BPPT telah meraih peringkat ke 5 terbaik untuk keterbukaan informasi publik kategori badan publik/LPNK, dan meningkat menjadi urutan ke 3 pada 2017. Dan pada tahun 2018, mendapatkan penghargaan sebagai “Badan Publik yang menuju informatif".

Kemudian dilanjutkan dengan paparan dari Komisioner Bidang Penyelesaian Sengketa Informasi KIP oleh Bapak Arif Adi Kuswardono. Beliau memberikan materi tentang pentingnya keterbukaan informasi. Potensi bisnis yang besar dari Digital Indonesia pada 2020 yang dapat diraih sekitar 1.729 triliyun potensi ekonomi kreatif digital dan 215 juta pengguna internet. Manfaat integrasi data adalah data yang sama dapat dipakai antar badan, single source of truth, data mudah di-generate, dan efisien, konsisten, dan optimal. Segitiga manfaat government to citizen (sudah diatur oleh UU), government to business (sudah diatur oleh UU), dan government to government (belum diatur oleh UU) harus terlaksana untuk terwujudnya keterbukaan publik.

Kemudian arahan dari Ka. BPPT agar BPPT harus melakukan transformasi digital. Untuk mendukung hal ini, beliau menginstruksikan agar per WBS menginformasikan kegiatannya ke publik via media social. Selain itu, di lingkungan BPPT sendiri, untuk memperingati ulang tahun BPPT ke 41, BPPT akan meluncurkan 41 applikasi yang mendukung kinerja karyawan.

 

Penulis dan editor: GWM

Kegiatan Tim Batubara PTSEIK ke Pabrik Semen Padang dan Universitas Andalas di Padang, Sumatera Barat

Kunjungan kerja ke Padang Sumatera Barat ini bertujuan untuk melakukan pemaparan dan diskusi terkait tindak lanjut pengembangan teknologi Coal UpgradingFlash Drying” untuk diterapkan pada pabrik semen, serta melakukan penjajakan potensi kerja sama antara BPPT dengan pihak industri (PT. Semen Padang) dan pihak akademisi (Fakultas Teknik Universitas Andalas). Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 25 dan 26 Juli 2019 oleh PTSEIK BPPT yang terdiri dari 4 orang anggota tim batubara (Ir. Yusnitati, Ir. Trisaksono, Dr. Herman Hidayat, dan Imron Masfuri) yang didampingi oleh Kepala Bagian Program dan Anggaran  (Dr. M. Abdul Kholiq). Adapun kegiatan dinas ke industri semen ini merupakan bagian dari program kegiatan DIPA Batubara 2019. Urgensi kegiatan kunjungan ini adalah untuk memaparkan progress riset dan pengembangan teknologi coal upgrading yang telah sampai pada tahap pengujian pilot coal flash drying skala 500 kg/jam serta pengumpulan data primer dan sekunder guna menunjang kajian penerapan teknologi coal flash drying pada industri semen yang merupakan salah satu output program kegiatan batubara di tahun 2019 ini.

Gambar 1. Plant Semen di PT. Semen Padang

Agenda pertama adalah melakukan pertemuan, diskusi, dan kunjungan plant pabrik Semen Padang. Pertemuan antara tim PTSEIK dengan pihak PT. Semen Padang dilaksanakan di Pabrik Indarung Semen Padang yang berlokasi di Komplek Semen Padang, Jalan Raya Indarung, Padang Besi, Lubuk Kilangan, Kota Padang. Kegiatan ini diawali dengan paparan dan diskusi di ruang rapat Bagonjong, lalu dilanjutkan dengan kunjungan lapangan ke plant pabrik semen Indarung V.

Gambar 2. Paparan tim PTSEIK terkait profil BPPT

Gambar 3. Paparan Teknologi Coal Flash Drying

Dalam paparan tersebut, tim PTSEIK menyampaikan bahwa status pengembangan teknologi coal upgrading dengan proses coal flash drying (CFD) telah selesai membangun pilot plant CFD skala 500 kg/jam di laboratorium batubara PTSEIK di Puspiptek Serpong serta telah melakukan beberapa kali pengujian dengan menggunakan bahan baku batubara kualitas rendah atau lignite.

Gambar 4. Pilot Plant Coal Flash Drying kapasitas 500 kg/jam di PTSEIK Puspiptek Serpong

Penjajakan kerja sama antara PTSEIK BPPT dan PT. Semen Padang diharapkan dapat terlaksana guna menunjang pengembangan dan penerapan teknologi coal flash drying hingga skala komersial atau penerapan di industri, karena mengingat potensi besar sumber gas panas buang (waste heat) yang dihasilkan pabrik semen selama proses produksi semen. Teknologi CFD merupakan teknologi coal upgrading yang sangat memungkinkan untuk diterapkan di Pabrik Semen karena beroperasi pada temperatur dan tekanan rendah, yaitu pada temperatur kurang dari 200oC dan tekanan atmosferik. Sehingga sumber panas buang di beberapa unit proses pabrik semen Padang berpotensi untuk dijadikan sumber panas untuk coal flash drying. Adapun sumber panas buang bisa berasal dari sisa flue gas keluaran dari unit Suspension Preheater maupun dari udara panas keluaran dari unit Clinker Cooler.

Gambar 5. Sumber-sumber gas panas buang di Semen Padang

Setelah selesai paparan, tim PTSEIK diberi kesempatan berkunjung ke area plant Semen Padang di Pabrik Indarung V untuk mengetahui langsung peralatan produksi semen mulai dari material yang digunakan hingga peralatan proses yang menghasilkan gas panas buang. Hal ini sangat penting untuk menunjang dan mendukung kajian penerapan teknologi coal upgrading “flash drying” pada pabrik semen secara detail dan terperinci. Kunjungan di plant meliputi beberapa area plant yang terkait kajian coal upgrading, yaitu unit Coal Handling, unit Suspension Preheater, unit Coal Mill dan unit Clinker Cooler.

Gambar 6. Kunjungan pabrik Semen Padang di plant Indarung V

   

Gambar 7. Kunjungan di unit proses yang menghasilkan gas panas buang

Kegiatan tim BPPT selanjutnya adalah melakukan pertemuan, diskusi, dan kunjungan di Fakultas Teknik Universitas Andalas di Padang, tepatnya berlokasi di Kampus Limau Manis, Kota Padang, Sumatera Barat. Dalam pertemuan tersebut, tim PTSEIK BPPT disambut langsung oleh Dekan Fakultas Teknik Universitas Andalas, Dr. Insanul Kamil beserta jajarannya.

Gambar 8. Pertemuan di Fakultas Teknik Universitas Andalas

Dalam pertemuan tersebut, tim BPPT memaparkan profil BPPT secara keseluruhan beserta pembagian unit-unit kerja yang ada di BPPT serta menyampaikan kegiatan-kegiatan riset dan fasilitas-fasilitas peralatan lab yang ada di BPPT Puspiptek Serpong. Pada kesempatan tersebut, pihak Universitas Andalas sangat tertarik untuk menjalin kerja sama dengan BPPT, khususnya yang berhubungan dengan akademisi, mahasiswa, dan riset. Bentuk kerja sama antara BPPT dan Universitas Andalas akan dibahas lebih lanjut dalam draft kerja sama dengan detail lingkup kegiatan yang jelas dan terarah.

 

Penulis: Imron Masfuri

Editor: GWM

 

Seminar Ekonomi dan Bisnis : Peluang Biofuel untuk Pemenuhan Kebutuhan Energi Domestik

Direktur PTSEIK menugaskan staf PTSEIK (Dr. Erlan Rosyadi) sebagai narasumber  pada Acara "Seminar Ekonomi dan Bisnis" di Bank Indonesia Kalsel Banjarmasin 5 Juli 2019. Dengan latar belakang pendapatan asli daerah Kalimantan Selatan yang didominasi oleh kegiatan di pertambangan (79%), pemerintah daerah Kalimantan Selatan berkeinginan untuk mengubah ke arah kegiatan lainnya. Dengan berbagai pertimbangan, salah satu sektor yang dipertimbangkan adalah sektor pengolahan minyak kelapa sawit. Hal ini sejalan dengan kebijakan mandatori pemerintah mengenai penggunaan B30 yang akan diterapkan pada awal tahun 2020.

  

Gambar 1. Ramah tamah peserta dengan Bapak Abdul Haris Makkie, Sekda Prov. Kalsel

Dalam seminar tersebut telah disampaikan berbagai hal terkait teknologi biofuel baik generasi 1, generasi 1,5 dan generasi 2. Keunggulan produksi CPO yang terus meningkat dari tahun ke tahun dapat mengatasi persoalan BBM dengan cara mengkonversi CPO menjadi biofuel. Pengembangan inovasi ke depan diarahkan pada peluang pengembangan biofuel generasi 2 dengan mengacu pada potensi sumberdaya biomasa yang berlimpah untuk dapat dikonversi menjadi bahan bakar maupun industri kimia. 

Gambar 2. Kegiatan seminar ekonomi dan bisnis (Sumber : https://banjarmasin.tribunnews.com/2019/07/05/kurangi-konsumsi-batubara-kalsel-bakal-maksimalkan-kelapa-sawit-kembangkan-biofuel

Dari seminar ini diharapkan semua masukan narasumber dan audiens akan ditindaklanjuti melalui usulan Gubernur Bank Indonesia mengenai pemanfaatan biofuel untuk mengatasi defisit neraca transaksi berjalan.

 

Penulis : Dr. Erlan Rosyadi

Editor : BM, GWM

Statistik Pengunjung

1.png0.png4.png6.png0.png4.png
Today285
Yesterday294
This week285
This month4880
1
Online

Hubungi Kami

Gedung Energi 625 Klaster V
Kawasan PUSPIPTEK Serpong, Tangerang Selatan 15314

Tel: (021) 75791355

Fax: (021) 75791355

Web: ptseik.bppt.go.id