Tel: (021) 75791355 Email: sekr-ptseik@bppt.go.id

Kunjungan SDIT Permata Madani ke BPPT

Pada hari Rabu (19/02/20), PTSEIK BPPT menerima kunjungan dari SDIT Permata Madani. Kunjungan ini dalam rangka study tour untuk topik pembelajaran tentang energi. Sebanyak 54 orang siswa dan siswi kelas 4 SD dan 4 orang guru mengikuti acara kunjungan ini.

Gambar 1. Foto bersama para siswa, guru, dan tim dari PTSEIK

Acara dimulai pukul 09.00 dengan sambutan dari perwakilan guru SDIT Permata Madani yang dilanjutkan dengan sambutan dari bapak Dr. SD Sumbogo Murti selaku perwakilan dari PTSEIK BPPT. Selanjutnya acara diisi dengan penayangan video edukasi yang sesuai dengan topik pembelajaran siswa di sekolah yakni tentang sumber energi dan pemanfaatannya.

Gambar 2. Acara kuis saat kunjungan berlangsung

Gambar 3. Antusiasme siswa SDIT Permata Madani melihat motor listrik

Gambar 4. Para siswa menyimak penjelasan dari tim B2TKE mengenai charging station dan kendaraan listrik

Ditambahkan pula tayangan video kegiatan pengembangan teknologi energi yang dilakukan di BPPT diantaranya gasifikasi biomassa yang dikembangkan oleh PTSEIK dan mobil listrik oleh B2TKE (Balai Besar Teknologi Konversi Energi). Selain itu, acara juga diselingi dengan diskusi dan kuis yang membuat para siswa menjadi lebih bersemangat. Pada akhir acara, dilakukan kunjungan ke fasilitas charging station mobil listrik di B2TKE dan pilot plant gasifikasi biomassa yang diikuti dengan antusiasme tinggi dari para siswa.

Gambar 5. Para siswa mengunjungi pilot plant gasifikasi di Workshop PTSEIK

Melalui kunjungan ini, diharapkan para siswa ini mendapatkan pengetahuan baru yang bermanfaat dan relevan dengan pembelajaran di sekolah. PTSEIK juga dengan senang hati menerima kunjungan ini sebagai bagian dari pengabdian PTSEIK untuk masyarakat.

 

Penulis: Nabila Anindhita

Editor: GWM

Workshop PTSEIK “Inovasi Teknologi untuk Peningkatan Batubara Peringkat Rendah bagi Industri dan Kelistrikan di Indonesia" Dihadiri oleh stakeholder Batubara

Pada tanggal 28 November 2019 bertempat di Hotel Grantage BSD, PTSEIK-BPPT mengadakan workshop yang berjudul “Inovasi Teknologi untuk Peningkatan Batubara Peringkat Rendah bagi Industri dan Kelistrikan di Indonesia". Workshop ini dibuka oleh Direktur PTSEIK yang pada kesempatan ini diwakilkan oleh Ka.Bag. Program dan Anggaran, Dr.M.Abdul Khaliq. Workshop ini dibagi menjadi dua sesi, dimana sesi pertama dengan topik “Potensi dan Pemanfaatan Batubara Peringkat Rendah” menghadirkan 3 orang narasumber yaitu  Hendra Sinadia selaku Direktur Executive Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI), Dr. Zainal Arifin selaku Vice President Teknologi dan Standarisasi PLN dan Prof. Dr. Dwi Wahju Sasongko (Teknik Kimia ITB). Sedangkan untuk sesi kedua dengan topik “Inovasi Teknologi Pemanfaatan Batubara Peringkat Rendah” menghadirkan 3 orang narasumber yaitu Bapak Apriyendi (Semen Padang), Bapak Dody Arsadian (Pengembangan Hilirisasi Batubara, PT. Bukit Asam), dan Bapak Lambok Silalahi, M.Eng. (BPPT). Hadir pula perwakilan dari PLN, APBI, PT. Semen Indonesia, PT. Pesona Khatulistiwa Nusantara (PKN), PT. ABM Investama, PT. BEST,  PT. MIFA BERSAUDARA, PT. PJB, PT. Pupuk Indonesia, PT. Tunas Inti Abadi, dan BPPT.

 Gambar 1. Foto Bersama saat Workshop Batubara 2019

Cadangan batubara Indonesia 70–80% peringkat kalori rendah. Komposisi ekspor batubara Indonesia sebesar 70–80% dari produksi nasional, dengan potensi devisa no. 2 terbesar di bawah dari kelapa sawit dimana pasarnya adalah Cina dan India. Batubara yang diekspor memiliki kalori rendah 4.000–5.000 kkal karena serapan pasar sekarang ini adalah batubara kalori rendah. Oleh karena itu APBI mempunyai peran salah satunya adalah mendorong agar kepentingan para anggotanya yang ingin berinvestasi untuk meningkatkan nilai tambah dapat diakomodir serta mendorong terbitnya kebijakan yang tepat dari pemerintah terkait pemanfaatan batubara, terutama yang peringkat rendah, sebagai sumberdaya alam Indonesia yang melimpah. Sedangkan, tantangan  ke depannya adalah bagaimana memanfaatkan batubara peringkat rendah, dengan teknologi bersih untuk menghadapi isu lingkungan dan perubahan iklim. Teknologi yang dapat digunakan antara lain coal upgrading, gasifikasi, dan lain-lain. Perlu dilakukan pengendalian produksi karena kondisi pasar saat ini oversupply sehingga meski produksi bisa ditingkatkan hingga 700 ton, namun akan mempengaruhi harga di pasaran. Perlu regulasi serta pemilihan teknologi yang tepat yang menjamin kelangsungan investasi untuk pemanfaatan batubara peringkat rendah,  seperti yang disampaikan Bapak Hendra Sinadia pada paparannya.

Gambar 2. Foto Aktiivtas Workshop saat Berlangsung

Dr. Zainal Arifin dari PLN menyampaikan bahwa ke depan, konsumsi listrik global hingga 88% akan dihasilkan dari renewable power. Indonesia, listrik merupakan 13,2% dari total konsumsi energi Indonesia, Indonesia fuel mix: lebih dari 50% masih mengandalkan PLTU. Dalam 10 tahun ke depan, pembangkitan listrik masih akan mengandalkan PLTU (54,6% pada 2028). Porsi PLTU hingga tahun 2028 akan mulai berkurang seiring pertumbuhan renewable energy, namun masih lebih dominan dibanding yang lain. Peningkatan renewable energy lebih ke arah menggantikan BBM. PLN masih akan membangun 27.000 MW PLTU. PLTU (Coal Fired Power Plant, CFPP) digunakan untuk base load, karena paling murah, teknologinya mature (TRL 9), vendor banyak, kapasitas bervariasi 1-9 MW dan didukung batubara yang masih melimpah. Untuk itu, pengembangan Clean Coal Technology (CCT) sangat penting, di antaranya coal washing, wet scrubbers, dan lain-lain.

Gambar 3. Saat Kunjungan ke Fasilitas Coal Flash Drying

Workshop ini bagian dari program BPPT untuk secara konsisten mendorong pengembangan teknologi untuk pemanfaatan batubara peringkat rendah, yang sesuai dengan kebutuhan domestik untuk mengganti batubara berkalori tinggi yang sangat terbatas dan cukup mahal sebagai bahan bakar/bahan baku industri. Berbagai kegiatan inovasi dan pelayanan teknologi yang dilakukan tim Batubara BPPT adalah sebagai berikut: Kliring Teknologi sebagai fungsi BPPT di bidang batubara dengan mengkaji kinerja proses Steam Tube Drying (STD). Inovasi Teknologi Peningkatan Kualitas Batubara, BPPT telah melakukan pengembangan teknologi/proses seperti Teknologi Coal Flash Drying (CFD) yang saat ini sudah pada tahap pilot plant 500 kg/jam, Teknologi Coal Liquefaction, Teknologi Tar Upgrading, dan Teknologi Gasifikasi Batubara/Biomasa untuk menghasilkan gas sintetik, sebagai bahan baku metanol.

Gambar 4. Aktifitas Kunjungan ke Fasilitas PTSEIK

Setelah acara workshop di Hotel Grantage, siang harinya para peserta workshop diajak berkunjung dan melihat fasilitas terkait teknologi batubara seperti CFD, STD, Teknologi Gasifikasi, dan lain-lain di PTSEIK BPPT Puspiptek, Serpong.

Gambar 5. Kunjungan Terakhir di Fasilitas Steam Tube Drying

Terakhir besar harapan dengan adanya workshop ini didapatkan pertukaran pemikiran dan diskusi yang terjadi dalam forum workshop ini akan sangat berdayaguna, sehingga dapat dihasilkan rekomendasi teknologi yang bermanfaat, yang secara bersama dapat mendorong secara cepat pendayagunaan batubara peringkat rendah untuk kepentingan keamanan energi, lingkungan, masyarakat dan pertumbuhan ekonomi.

Bahan Paparan klik di sini

Penulis: Fusia Mirda Yanti

Editor: GWM

Listrik dari Limbah Cair Sawit POME, Kenapa Tidak? (Update PLTBg Terantam)

Gambar tersebut di atas adalah contoh pemanfaatan limbah sawit berupa Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) dari POME yang dibangun PTSEIK/BPPT di lokasi pabrik kelapa sawit (PKS) milik PTPN 5 di Terantam, Pekanbaru. Unit PTLBg tersebut dapat mensuplai daya listrik sampai 700 kWe yang disalurkan melalui fasilitas jaringan sepanjang 7 km kelokasi yang membutuhkan di PKS Tandun. Project ini merupakan plant pionir bagi PTPN 5 yang merencanakan akan terus mendorong pendayagunaan POME, limbah cair pengolahan sawit, sebagai sumber energi.

Pembangunan fasilitas PLTBg dipandang sangat strategis mengingat pada 3 hal pokok yaitu mengendalikan limbah cair sawit yang dinilai sangat mencemari lingkungan, mampu memberikan nilai tambah berupa tersedianya bahan bakar alternatif baik untuk menghasilkan listrik atau sebagai sumber panas industri (bahan bakar boiler), dan yang juga sangat penting adalah mengendalikan gas rumah kaca/Green House Gases (GHG dari CH4 dan CO2). Namun disayangkan sampai saat ini nilai pemanfaatan POME tersebut masih sangat rendah khususnya di Indonesia dibandingkan ke 2 negara lain yang juga menjadi produsen sawit di dunia yaitu Malaysia dan Thailand.

Sebenarnya perangkat kebijakan dari negara sudah dikeluarkan, porsi EBT ditargetkan dapat mencapai 23% dari total bauran energi nasional pada tahun 2025. Bioenergi diharapkan mampu berkontribusi sebesar 9,7% dengan rincian 13,8 Juta kiloliter biofuel, 8,4 juta ton biomasa, dan 489,8 juta m3 biogas (Sumber KEN Permen No 79 Tahun 2014).

Potensi biogas khususnya dari limbah cair sawit POME patut diperhitungkan mengingat produksi tandan buah segar (TBS) mencapai 146 juta ton per tahun, yang ketika diolah menghasilkan 35 juta ton Crude Palm Oil (CPO) yang secara bersamaan juga akan membawa 28,7 juta ton limbah cair (POME).

Dengan target produksi listrik berbasis bioenergi (2025) sebesar 5,5 GW, hingga tahun 2018 baru berhasil dibangun sekitar 1,8 GW PLTBg. Sementara untuk POME total yang berhasil di data sekitar 31,8 MW, dalam bentuk pemanfaatannya untuk listrik atau untuk sumber panas pengolahan di pabrik CPO itu sendiri. Ditemukan sekitar 850 atau lebih pabrik kelapa sawit di Indonesia, dimana diperkirakan tidak lebih dari 10% yang sudah memiliki plant biogas dengan total kapasitas terpasang sekitar 23 MWe.

Melihat pada tingginya peluang pemanfaatan potensi biogas dari POME, untuk itulah maka BPPT membangun pembangkit listrik biogas (PLTBg) di PTPN 5 sebagai project percontohan, menggunakan limbah cair sawit POME di Terantam, Pekanbaru. Unit pertama ini telah dioperasikan pada kapasitas maksimal dan telah dinikmati manfaatnya untuk pemenuhan kebutuhan listrik dari PKS Tandun, yang juga milik PTPN 5.

Setelah berhasil dengan PLTBg yang pertama tersebut, maka PTSEIK/BPPT juga sedang mempersiapkan pembangunan satu unit PLTBg lainnya di Sei Pagar lokasi unit PKS lainnya yang juga menjadi milik PTPN 5 di sekitar wilayah Pekanbaru. Unit PLTBg kedua ini akan menggunakan teknologi yang berbeda. Jika pabrik biogas yang di Terantam menggunakan teknologi Covered Aerobic Lagoon (CAL) sedangkan yang di Sei Pagar menggunakan teknologi Continuous Stirred Tank Reactor (CSTR) yang diharapkan akan memberikan kinerja yang lebih baik.

Memperhatikan perkembangan tersebut, fungsi JIRAP yang diemban BPPT di bidang energi terbarukan sudah makin menjadi kenyataan. Diharapkan tidak ada keraguan lagi untuk menggunakan teknologi anak negeri. BPPT khususnya Pusat Teknologi Sumberdaya Energi dan Industri Kimia (PTSEIK) telah membuktikan bahwa implementasi teknologi biogas bukan hal yang tidak mungkin. Memasyarakatkan teknologi dan menciptakan negara yang kaya dengan teknologi, menjadi tanggung jawab bersama.

Dengan demikian cita-cita kemandirian bangsa di bidang teknologi bukan suatu kemustahilan, membangun plant mengubah POME menjadi listrik maupun untuk cofiring ternyata bisa diwujudkan, kenapa tidak? 

 

Penulis : Ir. Yusnitati, M.Sc.

Editor : GWM

Halfday Seminar tentang Prospek Bisnis dan Potensi Pendanaan Teknologi Biogas

PTSEIK ikut serta dalam Seminar halfday tentang "Prospek Bisnis dan Potensi Pendanan Teknologi Biogas" pada Kamis, 21 November 2019 lalu, jam 8.00 - 13.00, yang berlangsung di Jakarta. Pada kesempatan tersebut, Deputi Kepala BPPT Bidang TIEM, Prof. Eniya L. Dewi menyampaikan sambutan dengan point-point sebagai berikut:

  • BPPT konsen mendukung pemerintah dalam pengembangan energi terbarukan (PLTP, PV, SmartGrid, PV test lab., Biodiesel, Gasifikasi Biomasa, dan Biogas).
  • Upaya BPPT dalam mendorong teknologi Biogas diwujudkan pada pembangunan PLTBg du Terantam dengan reaktor tipe Covered Lagoon, dan dilanjutkan dengan sistem CSTR di Sei Pagar dengan dana Ristekdikti.
  • Peluang Biogas tidak hanya ke listrik. Tapi bisa untuk co-firing di boiler, upgrading jadi BioCH4 dan BioCNG sebagai pengganti BBG (CNG dan LPG) untuk kendaraan, industri, restoran dan blok perumahan, dan didistribusikan via jaringan gas maupun bottling.
  • CH4 dari Biogas juga bisa untuk menggantikan (sebagian) gas alam untuk produksi hidrogen yg sangat diperlukan utk berbagai industri (a.l. pupuk, dan yang sedang trend adalah green fuels, serta utk fuel cells.
  • Tantangan bersama jangka pendek ke depan memamfaatkan Biogas utk BioCH4/BioCNG baik jaringan gas maupun sistem distribusi bottling/tabung.

Sesi pertama Pak Dwi Husodo (Perekayasa Utama BPPT) dalam posisinya sebagai Chief Engineer kegiatan pilot project PLTBiogas, memaparkan pilot project BPPT bekerjasama dg PTPN V, yaitu PLTBiogas POME di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di Terantam dengan covered lagoon dan di Sei Pagar dengan CSTR (untuk co-firing boiler). Limbah yang digunakan di PKS Terantam hanya setengahnya (dari sekitar 40 m3 per jam hanya digunakan sekitar 20 m3 per jam) untuk menghasilkan listrik dengan daya sekitar 700 kW. Skema kerjasama dan hasil penjualan listrik masih dalam pembahasan. Yang paling memungkinkan sejauh ini adalah KSO. Kemungkinan skema ini yang dipilih dimana BPPT menunjuk Pusyantek sebagai unit yang mengelola. Kegiatan selanjutnya kemungkinan akan didukung oleh PTPN V dengan BPPT lanjut mengembangkan teknologinya. BPPT bekerjasama dengan mitra dengan tujuan untuk pengembangan teknologi Indonesia. BPPT melakukan desain kemudian kerjasama dengan pihak kontraktor untuk EPC dengan dukungan BPPT. Fokus di Terantam adalah teknologi ekonomis sehingga covered lagoon yang dipilih akan tetapi ada kelemahannya. Oleh karena itu, perlu inovasi – inovasi yang dihasilkan bersama oleh BPPT dan pihak industri.  Biogas Plant di Sei Pagar yang didanai Ristekdikti melalui jalur insinas didedikasikan untuk co-firing menggunakan tank reactor.

Gambar 1. Foto Pembicara dan Peserta Seminar

Paparan Prof Udin Hasanudin (UNILA) berkisar pada alternatif pemanfaatan biogas dan produk samping lainnya. Beberapa hal yang disampaikan yaitu, potensi POME bisa dimanfaatkan dan juga biomasa lain seperti tandan kosong juga berpotensi untuk diproses menjadi biogas. Kita harus upayakan agar teknologi untuk biogas ini bisa sepenuhnya dari dalam negeri. Berbagai pengembangan teknologi telah dilakukan, sebagai contoh teknologi upgrading water scrubber yang dikembangkan di ITB bersama BPPT. Selanjutnya, perlu pula dipikirkan effluent dari biogas plant. Effluent ini mengandung kalium dan mineral yang cukup tinggi. Land application diterapkan di beberapa tempat di Indonesia dengan hasil produktifitas sawit yang meningkat. Project bio CNG sudah ada di Kalimantan Timur, rencana di bottling, kemudian disalurkan ke perumahan karyawan untuk listrik menggunakan genset kecil. Di pabrik sawit, energi sudah berlebih sehingga kita mencarikan alternatif pemanfaatannya. Sedangkan di pabrik tapioka, nanas masih memerlukan energinya. Selama ini perhitungan terhadap aspek lingkungan masih kurang dihargai. Effluent dari biogas juga dapat dimanfaatkan untuk algae, untuk hidroponik.

Gambar 2. Kegiatan Diskusi dalam Seminar

Pengalaman teknologi biogas di Jerman dipaparkan oleh M. Abdul Kholiq.Di Jerman terjadi peningkatan yang signifikan pada jumlah biogas plant dengan adanya insentif dan kebijakan-kebijakan yang mendukung dari pemerintah Jerman. Di awal 2000-an ada fenomena petani di Jerman langsung memasukkan rumput ke biogas plant dibandingkan dengan memberikannya untuk pakan ternak karena ternak perlu perawatan yang lebih intens dengan pendapatan yang kurang lebih sama. Tahun 2017 sudah ada 10.000 biogas plants dengan total 5 GW. Sudah lazim di Jerman untuk menggunakan biogas untuk listrik atau untuk panas. Bahan baku untuk biogas di Jerman kebanyakan energy crops (a.l. tanaman jagung yang dibuat silage untuk persediaan setahun) dan sampah padat (sampah restoran, sisa makanan, dll) yang membutuhkan pre-processing terlebih dahulu sebelum digunakan. Ada persyaratan biogas plant di Jerman untuk bahan baku yang mengandung sampah, yaitu tahapan sterilisasi agar bakteri yang tidak diinginkan tidak berkembang biak (minimal pemanasan 1 jam). Biogas plant di Jerman juga mensyaratkan adanya after storage untuk menampung effluent karena waktu musim dingin tidak bisa dibuang/didistribusikan ke lahan. Pada musim dingin tidak ada aktivitas budidaya pertanian. Pemanfaatan biogas, selain untuk listrik dan panas, juga sudah dalam bentuk bioCH4/bioCNG yang dimanfaatkan untuk SPBG kendaraan berBBG dan diinjeksikan ke jaringan gas kota.

Gambar 3. PLTBiogas di PKS Terantam hasil kerjasama BPPT dan PTPN V

Presentasi oleh pak Dida Gardera Asdep Pelestarian LH di Kemenko Perekonomian tentang BPDLH untuk pendanaan proyek-proyek penerapan teknologi biogas. Beliau menjelaskan tentang modalitas pembiayaan perubahan iklim yaitu, APBN dan APBD; pinjaman / hibah luar negeri; dan masyarakat atau swasta. BPDLH salah satu quick win-nya adalah mendukung biorefinery. BPDLH dapat menjadi jembatan bagi pengembang proyek-proyek teknologi hijau dengan perbankan contohnya dengan mensubsidi bunga. Dana reboisasi untuk P3H ditransformasikan menjadi dana yang dikelola BPDLH yang diharapkan mulai per Januari 2020. Selain itu ada pula dana REDD+. Sudah ada kesepakatan nilai emisi yang sudah diturunkan dan sekarang sedang tahap verifikasi dari pihak ketiga (selain Norwegia dan Indonesia). Dana ini untuk diterapkan di sektor lahan. Ada juga kerjasama dengan OECD yang disebut Window Energy dalam bentuk kerjasama clean energy dengan pendanaan dari Denmark. Sudah dibicarakan juga dengan calon – calon donor lainnya. Eligible items untuk proyek yang bisa didanai perlu dapat masukan dari praktisi seperti para pemerhati biogas. Apakah lebih mendukung riset atau implementasi. Contoh proyek yang eligible:

  1. Efisiensi dan koservasi energi
  2. Teknologi Adaptasi Perubahan Iklim
  3. Implementasi EBT
  4. Waste to Energy/Pengolahan Limbah
  5. Konservasi Hutan
  6. Transportasi

BPDLH menjadi pengisi peran-peran yang kosong. Sebagai contoh jika ada yang keekonomiannya kurang (misal dari bunga yang tinggi), BPDLH bisa mensubsidi atau menjadi penjamin. Harga pengurangan emisi gas rumah kaca x dollar per ton (off the record karena belum fix). Dari pihak Indonesia komitmen akan menciptakan demand.

Presentasi oleh Pak Sakti Siregar (GGGI) tentang Prospek Bisnis Bio-CNG di Indonesia. Bio-CNG ekuivalensinya dengan CNG bahkan lebih tinggi calorific value-nya. Hanya ada kandungan H2S yang perlu dihilangkan jika akan disalurkan melalui pipa. Teknologi biogas upgrading di Malaysia menggunakan tube-tube kering yang memisahkan CO2 dan H2S. Potential value of Bio-CNG telah dihitung untuk listrik, CNG RT2, LPG non subsidi, CNG Rumah tangga 1, Diesel, LPG subsidi. Dan yang direkomendasikan adalah dijual ke rumah tangga atau untuk pengganti diesel di berbagai PLTD. Possible Business Model a.l. untuk dipakai sendiri, surplus dijual ke PLN. PLN di Balikpapan memplotkan 28 lokasi PLTD yang akan menggunakan Bio-CNG. Self consumption itu maksimal hanya menggunakan 39%. Sisanya perlu dijual ke pihak lain dan bisa lebih dari 1 pihak. Business model yang lain adalah reseller. Biogas dikumpulkan di satu lokasi lalu dikelola bersama-sama. Salah satu isu dalam penggunaan Bio-CNG di kendaraan adalah hilangnya garansi jika menggunakan konverter kit. Saat ini status garansi kendaraan belum dibicarakan dan akan disounding ke asosiasi CNG untuk bahan bakar truk. EBTKE yang menginiasi regulasi bio-CNG yaitu harga, safety, dan harus alert sebatas mana yang dikelola BPH Migas. Rekomendasinya, untuk masuk ke Bio-CNG perlu libatkan orang-orang yang sudah bergerak di bidang CNG. Orang-orang asosiasi CNG ingin investasi di Bio-CNG untuk masuk ke market. Lama konstruksi Bio-CNG adalah 4 bulan karena plug and play. Yang lama adalah proses impornya.

Presentasi oleh pak Hari Yuwono dari Private Financing Advisory Network (PFAN) UNIDO. Pesan utama paparan kali ini adalah dana sudah tersedia dan menunggu usulan atau proposal bisnis yang berkualitas. Kalau peluang ini tidak kita ambil, maka akan diambil oleh negara-negara lain, seperti Vietnam, India, Bangladesh, dan sebagainya. Dalam kalimat pembuka, Pak Hari Yuwono menekankan pentingnya event kegiatan bersama BPPT, ABgI dan PFAN seperti sekarang ini, dan perlu dilakukan secara rutin agar output tercapai. PFAN ini dikelola oleh UNIDO dan REEEP Austria. Perlu sinergi semua pihak baik pemerintah, private sector maupun akademisi. Contohnya untuk mengatasi gap-gap yang ada. Dapat pula dilakukan crowdfund. PFAN masih harus terus meningkatkan jumlah dan skala proyeknya. Total yang sudah didanai mencakup proyek 77.5 GM, Rp. 773 billion. Proposal dapat diajukan setiap hari dengan evaluasi setiap 3 bulan. Tetapi jika ada proyek yang sangat baik, maka PFAN dapat memprioritaskan. Deadline proposal berikutnya adalah 3 Desember 2019. Pesan utama paparan kali ini adalah, bahwa dana sudah menunggu usulan atau proposal bisnis yang berkualitas. Kalau peluang ini tidak kita ambil, maka akan diambil oleh negara-negara lain, seperti Vietnam, India, Bangladesh, dan sebagainya. Ada beberapa pertanyaan peserta seminar tentang PFAN UNIDO ini. Berapa nilai atau skala proyek minimal yang didanai PFAN? Apakah harus dalam renewable energy dan apakah bisa mendanai proyek yang dikelola private sector yang ingin mengembangkan renewable energy sebagai bagian dari proyek agroindustri terintegrasi? PFAN mendanai proyek yang bisa bankable (dengan atau tanpa jaminan). Tanpa jaminan bisa dilakukan jika proyeknya memiliki reputasi yang baik. Reputasi ini dapat dibangun dari awal sejak persiapan. Nilai proyek untuk PFAN diharapkan 1-50 juta USD. Lebih disukai yang nilai cukup besar, namun yang kecil pun bisa dibiayai jika diperkirakan pertumbuhan bisnisnya cukup cepat.

 

Penulis: NSy, MAK

Editor: GWM

 

Statistik Pengunjung

1.png7.png9.png6.png3.png0.png
Today281
Yesterday486
This week2407
This month2407
5
Online

Hubungi Kami

Gedung Energi 625 Klaster V
Kawasan PUSPIPTEK Serpong, Tangerang Selatan 15314

Tel: (021) 75791355

Fax: (021) 75791355

Web: ptseik.bppt.go.id