Tel: (021) 75791355 Email: sekr-ptseik@bppt.go.id

Listrik dari Limbah Cair Sawit POME, Kenapa Tidak? (Update PLTBg Terantam)

Gambar tersebut di atas adalah contoh pemanfaatan limbah sawit berupa Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) dari POME yang dibangun PTSEIK/BPPT di lokasi pabrik kelapa sawit (PKS) milik PTPN 5 di Terantam, Pekanbaru. Unit PTLBg tersebut dapat mensuplai daya listrik sampai 700 kWe yang disalurkan melalui fasilitas jaringan sepanjang 7 km kelokasi yang membutuhkan di PKS Tandun. Project ini merupakan plant pionir bagi PTPN 5 yang merencanakan akan terus mendorong pendayagunaan POME, limbah cair pengolahan sawit, sebagai sumber energi.

Pembangunan fasilitas PLTBg dipandang sangat strategis mengingat pada 3 hal pokok yaitu mengendalikan limbah cair sawit yang dinilai sangat mencemari lingkungan, mampu memberikan nilai tambah berupa tersedianya bahan bakar alternatif baik untuk menghasilkan listrik atau sebagai sumber panas industri (bahan bakar boiler), dan yang juga sangat penting adalah mengendalikan gas rumah kaca/Green House Gases (GHG dari CH4 dan CO2). Namun disayangkan sampai saat ini nilai pemanfaatan POME tersebut masih sangat rendah khususnya di Indonesia dibandingkan ke 2 negara lain yang juga menjadi produsen sawit di dunia yaitu Malaysia dan Thailand.

Sebenarnya perangkat kebijakan dari negara sudah dikeluarkan, porsi EBT ditargetkan dapat mencapai 23% dari total bauran energi nasional pada tahun 2025. Bioenergi diharapkan mampu berkontribusi sebesar 9,7% dengan rincian 13,8 Juta kiloliter biofuel, 8,4 juta ton biomasa, dan 489,8 juta m3 biogas (Sumber KEN Permen No 79 Tahun 2014).

Potensi biogas khususnya dari limbah cair sawit POME patut diperhitungkan mengingat produksi tandan buah segar (TBS) mencapai 146 juta ton per tahun, yang ketika diolah menghasilkan 35 juta ton Crude Palm Oil (CPO) yang secara bersamaan juga akan membawa 28,7 juta ton limbah cair (POME).

Dengan target produksi listrik berbasis bioenergi (2025) sebesar 5,5 GW, hingga tahun 2018 baru berhasil dibangun sekitar 1,8 GW PLTBg. Sementara untuk POME total yang berhasil di data sekitar 31,8 MW, dalam bentuk pemanfaatannya untuk listrik atau untuk sumber panas pengolahan di pabrik CPO itu sendiri. Ditemukan sekitar 850 atau lebih pabrik kelapa sawit di Indonesia, dimana diperkirakan tidak lebih dari 10% yang sudah memiliki plant biogas dengan total kapasitas terpasang sekitar 23 MWe.

Melihat pada tingginya peluang pemanfaatan potensi biogas dari POME, untuk itulah maka BPPT membangun pembangkit listrik biogas (PLTBg) di PTPN 5 sebagai project percontohan, menggunakan limbah cair sawit POME di Terantam, Pekanbaru. Unit pertama ini telah dioperasikan pada kapasitas maksimal dan telah dinikmati manfaatnya untuk pemenuhan kebutuhan listrik dari PKS Tandun, yang juga milik PTPN 5.

Setelah berhasil dengan PLTBg yang pertama tersebut, maka PTSEIK/BPPT juga sedang mempersiapkan pembangunan satu unit PLTBg lainnya di Sei Pagar lokasi unit PKS lainnya yang juga menjadi milik PTPN 5 di sekitar wilayah Pekanbaru. Unit PLTBg kedua ini akan menggunakan teknologi yang berbeda. Jika pabrik biogas yang di Terantam menggunakan teknologi Covered Aerobic Lagoon (CAL) sedangkan yang di Sei Pagar menggunakan teknologi Continuous Stirred Tank Reactor (CSTR) yang diharapkan akan memberikan kinerja yang lebih baik.

Memperhatikan perkembangan tersebut, fungsi JIRAP yang diemban BPPT di bidang energi terbarukan sudah makin menjadi kenyataan. Diharapkan tidak ada keraguan lagi untuk menggunakan teknologi anak negeri. BPPT khususnya Pusat Teknologi Sumberdaya Energi dan Industri Kimia (PTSEIK) telah membuktikan bahwa implementasi teknologi biogas bukan hal yang tidak mungkin. Memasyarakatkan teknologi dan menciptakan negara yang kaya dengan teknologi, menjadi tanggung jawab bersama.

Dengan demikian cita-cita kemandirian bangsa di bidang teknologi bukan suatu kemustahilan, membangun plant mengubah POME menjadi listrik maupun untuk cofiring ternyata bisa diwujudkan, kenapa tidak? 

 

Penulis : Ir. Yusnitati, M.Sc.

Editor : GWM

Kunjungan SDIT Permata Madani ke BPPT

Pada hari Rabu (19/02/20), PTSEIK BPPT menerima kunjungan dari SDIT Permata Madani. Kunjungan ini dalam rangka study tour untuk topik pembelajaran tentang energi. Sebanyak 54 orang siswa dan siswi kelas 4 SD dan 4 orang guru mengikuti acara kunjungan ini.

Gambar 1. Foto bersama para siswa, guru, dan tim dari PTSEIK

Acara dimulai pukul 09.00 dengan sambutan dari perwakilan guru SDIT Permata Madani yang dilanjutkan dengan sambutan dari bapak Dr. SD Sumbogo Murti selaku perwakilan dari PTSEIK BPPT. Selanjutnya acara diisi dengan penayangan video edukasi yang sesuai dengan topik pembelajaran siswa di sekolah yakni tentang sumber energi dan pemanfaatannya.

Gambar 2. Acara kuis saat kunjungan berlangsung

Gambar 3. Antusiasme siswa SDIT Permata Madani melihat motor listrik

Gambar 4. Para siswa menyimak penjelasan dari tim B2TKE mengenai charging station dan kendaraan listrik

Ditambahkan pula tayangan video kegiatan pengembangan teknologi energi yang dilakukan di BPPT diantaranya gasifikasi biomassa yang dikembangkan oleh PTSEIK dan mobil listrik oleh B2TKE (Balai Besar Teknologi Konversi Energi). Selain itu, acara juga diselingi dengan diskusi dan kuis yang membuat para siswa menjadi lebih bersemangat. Pada akhir acara, dilakukan kunjungan ke fasilitas charging station mobil listrik di B2TKE dan pilot plant gasifikasi biomassa yang diikuti dengan antusiasme tinggi dari para siswa.

Gambar 5. Para siswa mengunjungi pilot plant gasifikasi di Workshop PTSEIK

Melalui kunjungan ini, diharapkan para siswa ini mendapatkan pengetahuan baru yang bermanfaat dan relevan dengan pembelajaran di sekolah. PTSEIK juga dengan senang hati menerima kunjungan ini sebagai bagian dari pengabdian PTSEIK untuk masyarakat.

 

Penulis: Nabila Anindhita

Editor: GWM

Workshop PTSEIK “Inovasi Teknologi untuk Peningkatan Batubara Peringkat Rendah bagi Industri dan Kelistrikan di Indonesia" Dihadiri oleh stakeholder Batubara

Pada tanggal 28 November 2019 bertempat di Hotel Grantage BSD, PTSEIK-BPPT mengadakan workshop yang berjudul “Inovasi Teknologi untuk Peningkatan Batubara Peringkat Rendah bagi Industri dan Kelistrikan di Indonesia". Workshop ini dibuka oleh Direktur PTSEIK yang pada kesempatan ini diwakilkan oleh Ka.Bag. Program dan Anggaran, Dr.M.Abdul Khaliq. Workshop ini dibagi menjadi dua sesi, dimana sesi pertama dengan topik “Potensi dan Pemanfaatan Batubara Peringkat Rendah” menghadirkan 3 orang narasumber yaitu  Hendra Sinadia selaku Direktur Executive Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI), Dr. Zainal Arifin selaku Vice President Teknologi dan Standarisasi PLN dan Prof. Dr. Dwi Wahju Sasongko (Teknik Kimia ITB). Sedangkan untuk sesi kedua dengan topik “Inovasi Teknologi Pemanfaatan Batubara Peringkat Rendah” menghadirkan 3 orang narasumber yaitu Bapak Apriyendi (Semen Padang), Bapak Dody Arsadian (Pengembangan Hilirisasi Batubara, PT. Bukit Asam), dan Bapak Lambok Silalahi, M.Eng. (BPPT). Hadir pula perwakilan dari PLN, APBI, PT. Semen Indonesia, PT. Pesona Khatulistiwa Nusantara (PKN), PT. ABM Investama, PT. BEST,  PT. MIFA BERSAUDARA, PT. PJB, PT. Pupuk Indonesia, PT. Tunas Inti Abadi, dan BPPT.

 Gambar 1. Foto Bersama saat Workshop Batubara 2019

Cadangan batubara Indonesia 70–80% peringkat kalori rendah. Komposisi ekspor batubara Indonesia sebesar 70–80% dari produksi nasional, dengan potensi devisa no. 2 terbesar di bawah dari kelapa sawit dimana pasarnya adalah Cina dan India. Batubara yang diekspor memiliki kalori rendah 4.000–5.000 kkal karena serapan pasar sekarang ini adalah batubara kalori rendah. Oleh karena itu APBI mempunyai peran salah satunya adalah mendorong agar kepentingan para anggotanya yang ingin berinvestasi untuk meningkatkan nilai tambah dapat diakomodir serta mendorong terbitnya kebijakan yang tepat dari pemerintah terkait pemanfaatan batubara, terutama yang peringkat rendah, sebagai sumberdaya alam Indonesia yang melimpah. Sedangkan, tantangan  ke depannya adalah bagaimana memanfaatkan batubara peringkat rendah, dengan teknologi bersih untuk menghadapi isu lingkungan dan perubahan iklim. Teknologi yang dapat digunakan antara lain coal upgrading, gasifikasi, dan lain-lain. Perlu dilakukan pengendalian produksi karena kondisi pasar saat ini oversupply sehingga meski produksi bisa ditingkatkan hingga 700 ton, namun akan mempengaruhi harga di pasaran. Perlu regulasi serta pemilihan teknologi yang tepat yang menjamin kelangsungan investasi untuk pemanfaatan batubara peringkat rendah,  seperti yang disampaikan Bapak Hendra Sinadia pada paparannya.

Gambar 2. Foto Aktiivtas Workshop saat Berlangsung

Dr. Zainal Arifin dari PLN menyampaikan bahwa ke depan, konsumsi listrik global hingga 88% akan dihasilkan dari renewable power. Indonesia, listrik merupakan 13,2% dari total konsumsi energi Indonesia, Indonesia fuel mix: lebih dari 50% masih mengandalkan PLTU. Dalam 10 tahun ke depan, pembangkitan listrik masih akan mengandalkan PLTU (54,6% pada 2028). Porsi PLTU hingga tahun 2028 akan mulai berkurang seiring pertumbuhan renewable energy, namun masih lebih dominan dibanding yang lain. Peningkatan renewable energy lebih ke arah menggantikan BBM. PLN masih akan membangun 27.000 MW PLTU. PLTU (Coal Fired Power Plant, CFPP) digunakan untuk base load, karena paling murah, teknologinya mature (TRL 9), vendor banyak, kapasitas bervariasi 1-9 MW dan didukung batubara yang masih melimpah. Untuk itu, pengembangan Clean Coal Technology (CCT) sangat penting, di antaranya coal washing, wet scrubbers, dan lain-lain.

Gambar 3. Saat Kunjungan ke Fasilitas Coal Flash Drying

Workshop ini bagian dari program BPPT untuk secara konsisten mendorong pengembangan teknologi untuk pemanfaatan batubara peringkat rendah, yang sesuai dengan kebutuhan domestik untuk mengganti batubara berkalori tinggi yang sangat terbatas dan cukup mahal sebagai bahan bakar/bahan baku industri. Berbagai kegiatan inovasi dan pelayanan teknologi yang dilakukan tim Batubara BPPT adalah sebagai berikut: Kliring Teknologi sebagai fungsi BPPT di bidang batubara dengan mengkaji kinerja proses Steam Tube Drying (STD). Inovasi Teknologi Peningkatan Kualitas Batubara, BPPT telah melakukan pengembangan teknologi/proses seperti Teknologi Coal Flash Drying (CFD) yang saat ini sudah pada tahap pilot plant 500 kg/jam, Teknologi Coal Liquefaction, Teknologi Tar Upgrading, dan Teknologi Gasifikasi Batubara/Biomasa untuk menghasilkan gas sintetik, sebagai bahan baku metanol.

Gambar 4. Aktifitas Kunjungan ke Fasilitas PTSEIK

Setelah acara workshop di Hotel Grantage, siang harinya para peserta workshop diajak berkunjung dan melihat fasilitas terkait teknologi batubara seperti CFD, STD, Teknologi Gasifikasi, dan lain-lain di PTSEIK BPPT Puspiptek, Serpong.

Gambar 5. Kunjungan Terakhir di Fasilitas Steam Tube Drying

Terakhir besar harapan dengan adanya workshop ini didapatkan pertukaran pemikiran dan diskusi yang terjadi dalam forum workshop ini akan sangat berdayaguna, sehingga dapat dihasilkan rekomendasi teknologi yang bermanfaat, yang secara bersama dapat mendorong secara cepat pendayagunaan batubara peringkat rendah untuk kepentingan keamanan energi, lingkungan, masyarakat dan pertumbuhan ekonomi.

Bahan Paparan klik di sini

Penulis: Fusia Mirda Yanti

Editor: GWM

Statistik Pengunjung

2.png4.png0.png1.png1.png8.png
Today355
Yesterday462
This week817
This month9224
3
Online

Hubungi Kami

Gedung Energi 625 Klaster V
Kawasan PUSPIPTEK Serpong, Tangerang Selatan 15314

Tel: (021) 75791355

Fax: (021) 75791355

Web: ptseik.bppt.go.id