Tel: (021) 75791355 Email: sekr-ptseik@bppt.go.id

Halfday Seminar tentang Prospek Bisnis dan Potensi Pendanan Teknologi Biogas

PTSEIK ikut serta dalam Seminar halfday tentang "Prospek Bisnis dan Potensi Pendanan Teknologi Biogas" pada Kamis, 21 November 2019 lalu, jam 8.00 - 13.00, yang berlangsung di Jakarta. Pada kesempatan tersebut, Deputi Kepala BPPT Bidang TIEM, Prof. Eniya L. Dewi menyampaikan sambutan dengan point-point sebagai berikut:

  • BPPT konsen mendukung pemerintah dalam pengembangan energi terbarukan (PLTP, PV, SmartGrid, PV test lab., Biodiesel, Gasifikasi Biomasa, dan Biogas).
  • Upaya BPPT dalam mendorong teknologi Biogas diwujudkan pada pembangunan PLTBg du Terantam dengan reaktor tipe Covered Lagoon, dan dilanjutkan dengan sistem CSTR di Sei Pagar dengan dana Ristekdikti.
  • Peluang Biogas tidak hanya ke listrik. Tapi bisa untuk co-firing di boiler, upgrading jadi BioCH4 dan BioCNG sebagai pengganti BBG (CNG dan LPG) untuk kendaraan, industri, restoran dan blok perumahan, dan didistribusikan via jaringan gas maupun bottling.
  • CH4 dari Biogas juga bisa untuk menggantikan (sebagian) gas alam untuk produksi hidrogen yg sangat diperlukan utk berbagai industri (a.l. pupuk, dan yang sedang trend adalah green fuels, serta utk fuel cells.
  • Tantangan bersama jangka pendek ke depan memamfaatkan Biogas utk BioCH4/BioCNG baik jaringan gas maupun sistem distribusi bottling/tabung.

Sesi pertama Pak Dwi Husodo (Perekayasa Utama BPPT) dalam posisinya sebagai Chief Engineer kegiatan pilot project PLTBiogas, memaparkan pilot project BPPT bekerjasama dg PTPN V, yaitu PLTBiogas POME di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di Terantam dengan covered lagoon dan di Sei Pagar dengan CSTR (untuk co-firing boiler). Limbah yang digunakan di PKS Terantam hanya setengahnya (dari sekitar 40 m3 per jam hanya digunakan sekitar 20 m3 per jam) untuk menghasilkan listrik dengan daya sekitar 700 kW. Skema kerjasama dan hasil penjualan listrik masih dalam pembahasan. Yang paling memungkinkan sejauh ini adalah KSO. Kemungkinan skema ini yang dipilih dimana BPPT menunjuk Pusyantek sebagai unit yang mengelola. Kegiatan selanjutnya kemungkinan akan didukung oleh PTPN V dengan BPPT lanjut mengembangkan teknologinya. BPPT bekerjasama dengan mitra dengan tujuan untuk pengembangan teknologi Indonesia. BPPT melakukan desain kemudian kerjasama dengan pihak kontraktor untuk EPC dengan dukungan BPPT. Fokus di Terantam adalah teknologi ekonomis sehingga covered lagoon yang dipilih akan tetapi ada kelemahannya. Oleh karena itu, perlu inovasi – inovasi yang dihasilkan bersama oleh BPPT dan pihak industri.  Biogas Plant di Sei Pagar yang didanai Ristekdikti melalui jalur insinas didedikasikan untuk co-firing menggunakan tank reactor.

Gambar 1. Foto Pembicara dan Peserta Seminar

Paparan Prof Udin Hasanudin (UNILA) berkisar pada alternatif pemanfaatan biogas dan produk samping lainnya. Beberapa hal yang disampaikan yaitu, potensi POME bisa dimanfaatkan dan juga biomasa lain seperti tandan kosong juga berpotensi untuk diproses menjadi biogas. Kita harus upayakan agar teknologi untuk biogas ini bisa sepenuhnya dari dalam negeri. Berbagai pengembangan teknologi telah dilakukan, sebagai contoh teknologi upgrading water scrubber yang dikembangkan di ITB bersama BPPT. Selanjutnya, perlu pula dipikirkan effluent dari biogas plant. Effluent ini mengandung kalium dan mineral yang cukup tinggi. Land application diterapkan di beberapa tempat di Indonesia dengan hasil produktifitas sawit yang meningkat. Project bio CNG sudah ada di Kalimantan Timur, rencana di bottling, kemudian disalurkan ke perumahan karyawan untuk listrik menggunakan genset kecil. Di pabrik sawit, energi sudah berlebih sehingga kita mencarikan alternatif pemanfaatannya. Sedangkan di pabrik tapioka, nanas masih memerlukan energinya. Selama ini perhitungan terhadap aspek lingkungan masih kurang dihargai. Effluent dari biogas juga dapat dimanfaatkan untuk algae, untuk hidroponik.

Gambar 2. Kegiatan Diskusi dalam Seminar

Pengalaman teknologi biogas di Jerman dipaparkan oleh M. Abdul Kholiq.Di Jerman terjadi peningkatan yang signifikan pada jumlah biogas plant dengan adanya insentif dan kebijakan-kebijakan yang mendukung dari pemerintah Jerman. Di awal 2000-an ada fenomena petani di Jerman langsung memasukkan rumput ke biogas plant dibandingkan dengan memberikannya untuk pakan ternak karena ternak perlu perawatan yang lebih intens dengan pendapatan yang kurang lebih sama. Tahun 2017 sudah ada 10.000 biogas plants dengan total 5 GW. Sudah lazim di Jerman untuk menggunakan biogas untuk listrik atau untuk panas. Bahan baku untuk biogas di Jerman kebanyakan energy crops (a.l. tanaman jagung yang dibuat silage untuk persediaan setahun) dan sampah padat (sampah restoran, sisa makanan, dll) yang membutuhkan pre-processing terlebih dahulu sebelum digunakan. Ada persyaratan biogas plant di Jerman untuk bahan baku yang mengandung sampah, yaitu tahapan sterilisasi agar bakteri yang tidak diinginkan tidak berkembang biak (minimal pemanasan 1 jam). Biogas plant di Jerman juga mensyaratkan adanya after storage untuk menampung effluent karena waktu musim dingin tidak bisa dibuang/didistribusikan ke lahan. Pada musim dingin tidak ada aktivitas budidaya pertanian. Pemanfaatan biogas, selain untuk listrik dan panas, juga sudah dalam bentuk bioCH4/bioCNG yang dimanfaatkan untuk SPBG kendaraan berBBG dan diinjeksikan ke jaringan gas kota.

Gambar 3. PLTBiogas di PKS Terantam hasil kerjasama BPPT dan PTPN V

Presentasi oleh pak Dida Gardera Asdep Pelestarian LH di Kemenko Perekonomian tentang BPDLH untuk pendanaan proyek-proyek penerapan teknologi biogas. Beliau menjelaskan tentang modalitas pembiayaan perubahan iklim yaitu, APBN dan APBD; pinjaman / hibah luar negeri; dan masyarakat atau swasta. BPDLH salah satu quick win-nya adalah mendukung biorefinery. BPDLH dapat menjadi jembatan bagi pengembang proyek-proyek teknologi hijau dengan perbankan contohnya dengan mensubsidi bunga. Dana reboisasi untuk P3H ditransformasikan menjadi dana yang dikelola BPDLH yang diharapkan mulai per Januari 2020. Selain itu ada pula dana REDD+. Sudah ada kesepakatan nilai emisi yang sudah diturunkan dan sekarang sedang tahap verifikasi dari pihak ketiga (selain Norwegia dan Indonesia). Dana ini untuk diterapkan di sektor lahan. Ada juga kerjasama dengan OECD yang disebut Window Energy dalam bentuk kerjasama clean energy dengan pendanaan dari Denmark. Sudah dibicarakan juga dengan calon – calon donor lainnya. Eligible items untuk proyek yang bisa didanai perlu dapat masukan dari praktisi seperti para pemerhati biogas. Apakah lebih mendukung riset atau implementasi. Contoh proyek yang eligible:

  1. Efisiensi dan koservasi energi
  2. Teknologi Adaptasi Perubahan Iklim
  3. Implementasi EBT
  4. Waste to Energy/Pengolahan Limbah
  5. Konservasi Hutan
  6. Transportasi

BPDLH menjadi pengisi peran-peran yang kosong. Sebagai contoh jika ada yang keekonomiannya kurang (misal dari bunga yang tinggi), BPDLH bisa mensubsidi atau menjadi penjamin. Harga pengurangan emisi gas rumah kaca x dollar per ton (off the record karena belum fix). Dari pihak Indonesia komitmen akan menciptakan demand.

Presentasi oleh Pak Sakti Siregar (GGGI) tentang Prospek Bisnis Bio-CNG di Indonesia. Bio-CNG ekuivalensinya dengan CNG bahkan lebih tinggi calorific value-nya. Hanya ada kandungan H2S yang perlu dihilangkan jika akan disalurkan melalui pipa. Teknologi biogas upgrading di Malaysia menggunakan tube-tube kering yang memisahkan CO2 dan H2S. Potential value of Bio-CNG telah dihitung untuk listrik, CNG RT2, LPG non subsidi, CNG Rumah tangga 1, Diesel, LPG subsidi. Dan yang direkomendasikan adalah dijual ke rumah tangga atau untuk pengganti diesel di berbagai PLTD. Possible Business Model a.l. untuk dipakai sendiri, surplus dijual ke PLN. PLN di Balikpapan memplotkan 28 lokasi PLTD yang akan menggunakan Bio-CNG. Self consumption itu maksimal hanya menggunakan 39%. Sisanya perlu dijual ke pihak lain dan bisa lebih dari 1 pihak. Business model yang lain adalah reseller. Biogas dikumpulkan di satu lokasi lalu dikelola bersama-sama. Salah satu isu dalam penggunaan Bio-CNG di kendaraan adalah hilangnya garansi jika menggunakan konverter kit. Saat ini status garansi kendaraan belum dibicarakan dan akan disounding ke asosiasi CNG untuk bahan bakar truk. EBTKE yang menginiasi regulasi bio-CNG yaitu harga, safety, dan harus alert sebatas mana yang dikelola BPH Migas. Rekomendasinya, untuk masuk ke Bio-CNG perlu libatkan orang-orang yang sudah bergerak di bidang CNG. Orang-orang asosiasi CNG ingin investasi di Bio-CNG untuk masuk ke market. Lama konstruksi Bio-CNG adalah 4 bulan karena plug and play. Yang lama adalah proses impornya.

Presentasi oleh pak Hari Yuwono dari Private Financing Advisory Network (PFAN) UNIDO. Pesan utama paparan kali ini adalah dana sudah tersedia dan menunggu usulan atau proposal bisnis yang berkualitas. Kalau peluang ini tidak kita ambil, maka akan diambil oleh negara-negara lain, seperti Vietnam, India, Bangladesh, dan sebagainya. Dalam kalimat pembuka, Pak Hari Yuwono menekankan pentingnya event kegiatan bersama BPPT, ABgI dan PFAN seperti sekarang ini, dan perlu dilakukan secara rutin agar output tercapai. PFAN ini dikelola oleh UNIDO dan REEEP Austria. Perlu sinergi semua pihak baik pemerintah, private sector maupun akademisi. Contohnya untuk mengatasi gap-gap yang ada. Dapat pula dilakukan crowdfund. PFAN masih harus terus meningkatkan jumlah dan skala proyeknya. Total yang sudah didanai mencakup proyek 77.5 GM, Rp. 773 billion. Proposal dapat diajukan setiap hari dengan evaluasi setiap 3 bulan. Tetapi jika ada proyek yang sangat baik, maka PFAN dapat memprioritaskan. Deadline proposal berikutnya adalah 3 Desember 2019. Pesan utama paparan kali ini adalah, bahwa dana sudah menunggu usulan atau proposal bisnis yang berkualitas. Kalau peluang ini tidak kita ambil, maka akan diambil oleh negara-negara lain, seperti Vietnam, India, Bangladesh, dan sebagainya. Ada beberapa pertanyaan peserta seminar tentang PFAN UNIDO ini. Berapa nilai atau skala proyek minimal yang didanai PFAN? Apakah harus dalam renewable energy dan apakah bisa mendanai proyek yang dikelola private sector yang ingin mengembangkan renewable energy sebagai bagian dari proyek agroindustri terintegrasi? PFAN mendanai proyek yang bisa bankable (dengan atau tanpa jaminan). Tanpa jaminan bisa dilakukan jika proyeknya memiliki reputasi yang baik. Reputasi ini dapat dibangun dari awal sejak persiapan. Nilai proyek untuk PFAN diharapkan 1-50 juta USD. Lebih disukai yang nilai cukup besar, namun yang kecil pun bisa dibiayai jika diperkirakan pertumbuhan bisnisnya cukup cepat.

 

Penulis: NSy, MAK

Editor: GWM

 

Statistik Pengunjung

1.png2.png1.png2.png9.png1.png
Today80
Yesterday248
This week80
This month2309
2
Online

Hubungi Kami

Gedung Energi 625 Klaster V
Kawasan PUSPIPTEK Serpong, Tangerang Selatan 15314

Tel: (021) 75791355

Fax: (021) 75791355

Web: ptseik.bppt.go.id