Tel: (021) 75791355 Email: sekr-ptseik@bppt.go.id

Workshop PTSEIK “Inovasi Teknologi untuk Peningkatan Batubara Peringkat Rendah bagi Industri dan Kelistrikan di Indonesia" Dihadiri oleh stakeholder Batubara

Pada tanggal 28 November 2019 bertempat di Hotel Grantage BSD, PTSEIK-BPPT mengadakan workshop yang berjudul “Inovasi Teknologi untuk Peningkatan Batubara Peringkat Rendah bagi Industri dan Kelistrikan di Indonesia". Workshop ini dibuka oleh Direktur PTSEIK yang pada kesempatan ini diwakilkan oleh Ka.Bag. Program dan Anggaran, Dr.M.Abdul Khaliq. Workshop ini dibagi menjadi dua sesi, dimana sesi pertama dengan topik “Potensi dan Pemanfaatan Batubara Peringkat Rendah” menghadirkan 3 orang narasumber yaitu  Hendra Sinadia selaku Direktur Executive Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI), Dr. Zainal Arifin selaku Vice President Teknologi dan Standarisasi PLN dan Prof. Dr. Dwi Wahju Sasongko (Teknik Kimia ITB). Sedangkan untuk sesi kedua dengan topik “Inovasi Teknologi Pemanfaatan Batubara Peringkat Rendah” menghadirkan 3 orang narasumber yaitu Bapak Apriyendi (Semen Padang), Bapak Dody Arsadian (Pengembangan Hilirisasi Batubara, PT. Bukit Asam), dan Bapak Lambok Silalahi, M.Eng. (BPPT). Hadir pula perwakilan dari PLN, APBI, PT. Semen Indonesia, PT. Pesona Khatulistiwa Nusantara (PKN), PT. ABM Investama, PT. BEST,  PT. MIFA BERSAUDARA, PT. PJB, PT. Pupuk Indonesia, PT. Tunas Inti Abadi, dan BPPT.

 Gambar 1. Foto Bersama saat Workshop Batubara 2019

Cadangan batubara Indonesia 70–80% peringkat kalori rendah. Komposisi ekspor batubara Indonesia sebesar 70–80% dari produksi nasional, dengan potensi devisa no. 2 terbesar di bawah dari kelapa sawit dimana pasarnya adalah Cina dan India. Batubara yang diekspor memiliki kalori rendah 4.000–5.000 kkal karena serapan pasar sekarang ini adalah batubara kalori rendah. Oleh karena itu APBI mempunyai peran salah satunya adalah mendorong agar kepentingan para anggotanya yang ingin berinvestasi untuk meningkatkan nilai tambah dapat diakomodir serta mendorong terbitnya kebijakan yang tepat dari pemerintah terkait pemanfaatan batubara, terutama yang peringkat rendah, sebagai sumberdaya alam Indonesia yang melimpah. Sedangkan, tantangan  ke depannya adalah bagaimana memanfaatkan batubara peringkat rendah, dengan teknologi bersih untuk menghadapi isu lingkungan dan perubahan iklim. Teknologi yang dapat digunakan antara lain coal upgrading, gasifikasi, dan lain-lain. Perlu dilakukan pengendalian produksi karena kondisi pasar saat ini oversupply sehingga meski produksi bisa ditingkatkan hingga 700 ton, namun akan mempengaruhi harga di pasaran. Perlu regulasi serta pemilihan teknologi yang tepat yang menjamin kelangsungan investasi untuk pemanfaatan batubara peringkat rendah,  seperti yang disampaikan Bapak Hendra Sinadia pada paparannya.

Gambar 2. Foto Aktiivtas Workshop saat Berlangsung

Dr. Zainal Arifin dari PLN menyampaikan bahwa ke depan, konsumsi listrik global hingga 88% akan dihasilkan dari renewable power. Indonesia, listrik merupakan 13,2% dari total konsumsi energi Indonesia, Indonesia fuel mix: lebih dari 50% masih mengandalkan PLTU. Dalam 10 tahun ke depan, pembangkitan listrik masih akan mengandalkan PLTU (54,6% pada 2028). Porsi PLTU hingga tahun 2028 akan mulai berkurang seiring pertumbuhan renewable energy, namun masih lebih dominan dibanding yang lain. Peningkatan renewable energy lebih ke arah menggantikan BBM. PLN masih akan membangun 27.000 MW PLTU. PLTU (Coal Fired Power Plant, CFPP) digunakan untuk base load, karena paling murah, teknologinya mature (TRL 9), vendor banyak, kapasitas bervariasi 1-9 MW dan didukung batubara yang masih melimpah. Untuk itu, pengembangan Clean Coal Technology (CCT) sangat penting, di antaranya coal washing, wet scrubbers, dan lain-lain.

Gambar 3. Saat Kunjungan ke Fasilitas Coal Flash Drying

Workshop ini bagian dari program BPPT untuk secara konsisten mendorong pengembangan teknologi untuk pemanfaatan batubara peringkat rendah, yang sesuai dengan kebutuhan domestik untuk mengganti batubara berkalori tinggi yang sangat terbatas dan cukup mahal sebagai bahan bakar/bahan baku industri. Berbagai kegiatan inovasi dan pelayanan teknologi yang dilakukan tim Batubara BPPT adalah sebagai berikut: Kliring Teknologi sebagai fungsi BPPT di bidang batubara dengan mengkaji kinerja proses Steam Tube Drying (STD). Inovasi Teknologi Peningkatan Kualitas Batubara, BPPT telah melakukan pengembangan teknologi/proses seperti Teknologi Coal Flash Drying (CFD) yang saat ini sudah pada tahap pilot plant 500 kg/jam, Teknologi Coal Liquefaction, Teknologi Tar Upgrading, dan Teknologi Gasifikasi Batubara/Biomasa untuk menghasilkan gas sintetik, sebagai bahan baku metanol.

Gambar 4. Aktifitas Kunjungan ke Fasilitas PTSEIK

Setelah acara workshop di Hotel Grantage, siang harinya para peserta workshop diajak berkunjung dan melihat fasilitas terkait teknologi batubara seperti CFD, STD, Teknologi Gasifikasi, dan lain-lain di PTSEIK BPPT Puspiptek, Serpong.

Gambar 5. Kunjungan Terakhir di Fasilitas Steam Tube Drying

Terakhir besar harapan dengan adanya workshop ini didapatkan pertukaran pemikiran dan diskusi yang terjadi dalam forum workshop ini akan sangat berdayaguna, sehingga dapat dihasilkan rekomendasi teknologi yang bermanfaat, yang secara bersama dapat mendorong secara cepat pendayagunaan batubara peringkat rendah untuk kepentingan keamanan energi, lingkungan, masyarakat dan pertumbuhan ekonomi.

Bahan Paparan klik di sini

Penulis: Fusia Mirda Yanti

Editor: GWM

Statistik Pengunjung

1.png2.png1.png2.png9.png6.png
Today85
Yesterday248
This week85
This month2314
3
Online

Hubungi Kami

Gedung Energi 625 Klaster V
Kawasan PUSPIPTEK Serpong, Tangerang Selatan 15314

Tel: (021) 75791355

Fax: (021) 75791355

Web: ptseik.bppt.go.id