Tel: (021) 75791355 Email: sekr-ptseik@bppt.go.id

Program Strategis Nasional (PSN) Garam Industri Terintegrasi 2021

Dalam Lampiran I Perpres N0. 18 tahun 2020, yaitu Narasi RPJMN tahun 2020-2024, pada sub-bab 7.3) Peningkatan kapabilitas iptek dan penciptaan inovasi mencakup: a) Pemanfaatan iptek dan inovasi di bidang-bidang fokus Rencana Induk Riset Nasional 2017-2045 untuk pembangunan yang berkelanjutan yang mencakup integrasi pelaksanaan riset dengan skema flagship nasional Prioritas Riset Nasional untuk menghasilkan produk riset dan produk inovasi strategis, dan diantaranya adalah pabrik garam industri. Di dalam Narasi RPJMN 2020-2024 tersebut juga disebutkan produksi garam nasional pada tahun 2018 sebesar 2,72 juta ton (di Bab Pendahuluan), dengan target produksi gara nasional tahun 2020 3,0 juta ton dan tahun 2024 sebesar 3,4 juta ton (Tabel 2.1. Sasaran, Indikator dan Target 2020-2024) yang akan dicapai dengan strategi ekstensifikasi dan intensifikasi lahan garam serta peningkatan kualitas garam (Bab Arah Kebijakan dan Strategi). Dalam Permenristekdikti No. 38 tahun 2019 tentang Prioritas Riset Nasional tahun 2020-2024 ditetapkan a.l. Flagship Prioritas Riset Nasional dengan topik Garam Industri Terintegrasi, di mana BPPT ditetapkan sebagai Koordinator dengan melibatkan berbagai institusi pemerintah, badan usaha termasuk BUMN, pemerintah daerah, dan perguruan tinggi.

 

Garam merupakan komoditas yang tidak memiliki produk pengganti (unsubstituted), dan memiliki peran penting dalam mendukung kemajuan perekonomian sebuah bangsa. Berdasarkan data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) kebutuhan garam pada beberapa tahun terakhir semakin meningkat. Kebutuhan garam nasional tahun 2015-2019 berkisar 3,2-4,3 juta ton, terdiri dari garam konsumsi dan garam industri. Garam industri yang membutuhkan kadar NaCl di atas 97% dan garam konsumsi yang membutuhkan kadar NaCl lebih rendah, yaitu sebesar 94,7%. Tidak semua garam yang diproduksi domestik (garam rakyat) dapat memenuhi kriteria sebagai garam industri.

 

Pada tahun 2019, Indonesia mengimpor garam sekitar 2,7 juta ton, dan ada indikasi ditingkatkan pada tahun 2020. Sebagian besar impor garam didatangkan dari Australia dan India. Saat ini, Indonesia mengkonsumsi garam sekitar 4.3 juta ton per tahun, tetapi produksi garam domestik hanya mencapai 2,3 juta ton per tahun (Kemenko Perekonomian, 2019). Supply terhadap kebutuhan garam industri khususnya CAP serta pulp dan kertas maka perlu dibangun unit produksi secara on farm yang menggunakan lahan terintegrasi. Produksi garam dengan lahan terintegrasi dapat meningkatkan produktivitas 4 kali lipat dibandingkan dengan metode konvensional yaitu meningkatkan produksi pertahun dari sekitar 25.000 ton/ha menjadi 100.000 ton/ha. Keunggulan lain dari metode lahan terintegrasi ini adalah selain dihasilkannya garam industri sepanjang tahun, pada waktu yang bersamaan dapat menghasilkan ikan, udang, artemia dan algae. Dengan lahan terintegrasi tersebut untuk memenuhi swasembada dibutuhkan tambahan lahan sekitar 40.000 hektar.

 

Teknologi lain yang dapat digunakan adalah produksi garam dari rejected brine unit desalinasi PLTU. Keunggulan teknologi tersebut adalah kemampuan menghasilkan garam industri dari air laut langsung maupun rejected brine PLTU. Produk yang dihasilkan adalah air bersih dan garam industri. Garam dapat diproduksi secara kontinyu pada musim kemarau maupun musim hujan. Sasaran kegiatan tahun 2021 adalah dihasilkannya design engineering pilot plant garam industri dari rejected brine PLTU.

Statistik Pengunjung

2.png7.png7.png5.png6.png3.png
Today90
Yesterday408
This week2277
This month11183
3
Online

Hubungi Kami

Gedung 625 Klaster Teknologi Energi
Kawasan PUSPIPTEK Serpong, Tangerang Selatan 15314

Telp: (021) 75791355

Fax: (021) 75791355

website: ptseik.bppt.go.id